Breaking News
OPINI  

Keterbatasan BBM Mengganggu Dunia Pendidikan Pasca Banjir Bandang Bener Meriah

Oleh: Tazkir, S.Pd, M.Pd

KenNews.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Bener Meriah saat ini menghadapi tantangan berat. Belum selesai masyarakat pulih dari trauma akibat bencana banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, kini mereka kembali dihadapkan pada persoalan baru, yakni keterbatasan dan harga tinggi pada pengecer bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memberikan pengaruh signifikan terhadap keberlangsungan pendidikan para siswa.

Pasca bencana banjir bandang di Bener Meriah, banyak keluarga yang masih berusaha menata kembali kehidupan mereka. Rumah-rumah yang rusak, fasilitas umum yang terganggu, serta kondisi psikologis masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak sebagai bagian dari masyarakat juga merasakan dampak tersebut. Banyak siswal yang masih mengalami trauma dan membutuhkan waktu untuk kembali menjalani aktivitas belajar secara normal.

Namun di tengah upaya pemulihan tersebut, keterbatasan BBM justru memperparah keadaan. Bagi sebagian besar siswa di daerah pedesaan, transportasi menjadi kebutuhan utama untuk mencapai sekolah. Banyak dari mereka tinggal di desa-desa yang jaraknya cukup jauh dari sekolah, sehingga harus menggunakan sepeda motor untuk berangkat belajar setiap hari. Ketika BBM sulit didapatkan, mobilitas mereka pun menjadi terhambat.

Akibatnya, tidak sedikit siswa yang terpaksa tidak hadir di sekolah. Beberapa orang tua mengaku kesulitan mendapatkan BBM untuk mengantar anak-anak mereka. Bahkan jika tersedia, antrean panjang di SPBU membuat masyarakat harus menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapatkan bahan bakar dibeli pada pengecer harga tinggi, situasi ini tentu berdampak langsung terhadap kehadiran siswa di sekolah dan berpotensi mengganggu proses pembelajaran.

Kondisi ini sangat memprihatinkan, terutama karena dunia pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan pasca bencana. Anak-anak membutuhkan stabilitas dan rutinitas belajar untuk membantu mereka bangkit dari trauma. Sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang sosial yang membantu siswa kembali merasa aman dan percaya diri setelah mengalami bencana.

Jika kelangkaan BBM terus berlanjut tanpa solusi yang jelas, maka dampaknya bisa semakin luas. Ketidakhadiran siswa secara terus-menerus dapat menyebabkan ketertinggalan pelajaran, menurunnya motivasi belajar, Hal ini tentu menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda di daerah tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah harus hadir secara nyata dalam menangani persoalan ini. Penanganan kelangkaan BBM tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi atau distribusi energi semata, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap sektor pendidikan. Pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu mengambil langkah cepat dan tepat untuk memastikan ketersediaan BBM, terutama di wilayah-wilayah yang sangat bergantung pada transportasi darat untuk aktivitas sehari-hari.

Selain itu, perlu juga dipertimbangkan kebijakan khusus bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah. Misalnya dengan menyediakan transportasi sekolah, mengatur sistem pembelajaran lebih fleksibel.Langkah-langkah ini penting agar proses pendidikan tetap berjalan meskipun masyarakat sedang menghadapi situasi yang sulit.

Di sisi lain, solidaritas masyarakat juga sangat dibutuhkan. Komunitas lokal, tokoh masyarakat dalam hal BBM dapat bekerja sama mencari solusi sementara agar para siswa tetap dapat bersekolah.
Pada akhirnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Anak-anak di Bener Meriah tidak boleh menjadi korban berlapis dari bencana alam dan persoalan distribusi energi. Mereka berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak tanpa terhambat oleh kondisi yang seharusnya bisa diatasi bersama.

Dengan kehadiran dan perhatian serius dari pemerintah, diharapkan persoalan BBM ini dapat segera diatasi sehingga aktivitas pendidikan di Bener Meriah kembali berjalan normal. Masa depan generasi muda tidak boleh tertunda hanya karena krisis yang berkepanjangan.

*Penulis guru SMA Negeri 1 Bukit