Breaking News

Bulan Ramadhan dan Sultanah Safiatuddin

KenNews.id – Bulan Ramadan dalam tradisi Islam bukan sekadar waktu berpuasa, tetapi juga musim bagi penyucian jiwa, penguatan solidaritas sosial, dan peneguhan kepemimpinan moral. Dalam sejarah Aceh, semangat Ramadhan tidak hanya hidup di masjid dan rumah-rumah rakyat, tetapi juga mewarnai kebijakan dan sikap para pemimpin. Salah satu tokoh yang mencerminkan perpaduan antara spiritualitas Ramadhan dan kepemimpinan negara adalah Sultanah Safiatuddin Tajul Alam, ratu besar Kesultanan Aceh pada abad ke-17.

Sultanah Safiatuddin memerintah Aceh setelah wafatnya Sultan Iskandar Tsani pada tahun 1641. Masa pemerintahannya berlangsung lebih dari tiga dekade—sebuah periode yang panjang dan relatif stabil dalam sejarah Aceh. Ia dikenal sebagai penguasa yang bijak, pelindung ulama, dan penjaga tradisi keilmuan Islam. Dalam suasana seperti itu, Ramadhan menjadi momentum penting yang menghubungkan kehidupan istana dengan kehidupan masyarakat.

Pada masa Sultanah Safiatuddin, masjid-masjid di Banda Aceh dipenuhi oleh kegiatan keagamaan selama Ramadhan. Para ulama mengajarkan tafsir, fikih, dan tasawuf kepada masyarakat. Tradisi membaca Al-Qur’an, zikir, dan sedekah berkembang kuat. Istana tidak berdiri terpisah dari kehidupan religius itu; sebaliknya, ia menjadi pusat dukungan bagi kegiatan spiritual masyarakat. Ramadhan menjadi bulan ketika negara dan agama berjalan seiring dalam harmoni.

Sultanah Safiatuddin juga dikenal sebagai pelindung karya-karya keilmuan. Pada masa pemerintahannya, kitab besar seperti Bustanus Salatin karya Nuruddin ar-Raniri terus dipelajari dan disalin. Ramadhan sering menjadi waktu istimewa bagi para ulama dan penulis untuk membaca kembali karya-karya tersebut di hadapan murid-murid dan pejabat istana. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi ruang ibadah pribadi, tetapi juga ruang peradaban—tempat ilmu dan spiritualitas bertemu.

Dalam konteks kepemimpinan, Ramadhan mengajarkan nilai kesederhanaan dan empati kepada para penguasa. Tradisi Aceh mencatat bahwa para sultan dan sultanah kerap memperbanyak sedekah kepada fakir miskin pada bulan ini. Sultanah Safiatuddin melanjutkan tradisi itu dengan memperkuat hubungan antara istana dan rakyat. Puasa menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin harus merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.

Lebih dari itu, kepemimpinan Sultanah Safiatuddin menunjukkan bahwa spiritualitas dapat berjalan seiring dengan kebijaksanaan politik. Ia berhasil menjaga stabilitas Aceh di tengah dinamika perdagangan internasional dan hubungan diplomatik dengan berbagai bangsa. Dalam suasana Ramadhan, nilai-nilai kesabaran, pengendalian diri, dan keadilan yang diajarkan oleh Islam tercermin dalam cara ia memerintah.

Ramadhan dalam sejarah Aceh bukan hanya ritual tahunan, melainkan juga sumber etika bagi kehidupan publik. Dari masjid hingga istana, dari ulama hingga rakyat, semua diikat oleh semangat yang sama: memperbaiki diri dan memperkuat keadilan sosial. Sultanah Safiatuddin menjadi contoh bagaimana nilai-nilai Ramadhan dapat mewarnai kepemimpinan sebuah negeri.

Hari ini, ketika Aceh terus meneguhkan identitasnya sebagai daerah yang kuat dalam tradisi Islam, kisah Sultanah Safiatuddin mengingatkan kita bahwa kekuatan spiritual harus berjalan bersama dengan kebijaksanaan dan kepedulian sosial. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan untuk memperbarui komitmen terhadap keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan umat.

Dalam cahaya Ramadhan, sejarah Sultanah Safiatuddin tampak seperti sebuah pelita: menerangi bahwa kekuasaan yang berpijak pada iman dan ilmu dapat melahirkan peradaban yang beradab.

L K Ara ‎