Breaking News

Panic Buying: Ketika Emosi Kolektif Mengalahkan Logika

Ilustrasi antrian BBM di SPBU Bener Meriah akibat isu perang. Foto: Tazkir

KenNews.id – Fenomena warga memborong BBM dan beras di Bener Meriah dan Aceh Tengah bukan semata soal pasokan. Dalam kajian psikologi sosial dan perilaku konsumen, situasi ini menunjukkan bagaimana emosi kolektif dapat bergerak lebih cepat daripada fakta.

Konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran mungkin terjadi ribuan kilometer dari Aceh. Namun di era informasi digital, jarak geografis tidak lagi menjadi batas psikologis. Ketika isu global bertemu dengan pengalaman lokal—seperti trauma bencana November 2025—reaksi publik menjadi jauh lebih sensitif.

Secara psikologis, ada tiga lapisan perilaku yang menjelaskan fenomena ini.

1. Kerentanan Saat Ketidakpastian

Otak manusia tidak dirancang untuk nyaman dalam ketidakpastian. Ketika muncul kabar stok BBM nasional hanya cukup sekitar 20 hari—sebagaimana disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia—sebagian masyarakat langsung menangkapnya sebagai ancaman personal, bukan sebagai konteks kebijakan energi nasional.

Dalam kondisi seperti ini muncul apa yang disebut illusion of control. Membeli lebih banyak terasa seperti mengambil kendali. Lima liter tambahan di rumah memberi rasa aman, meskipun secara kolektif justru mempercepat kekosongan di tingkat pengecer.

Ditambah lagi dengan social comparison theory. Ketika melihat tetangga mengisi jeriken ekstra atau membeli beras satu karung penuh, otak primitif memberi sinyal: “Jika mereka mengambil lebih dulu, saya bisa tertinggal.”

2. Oportunisme yang Disamarkan sebagai Kepanikan

Tidak semua pembelian besar didorong kepanikan murni. Ada pula yang bersikap kalkulatif. Mereka memperkirakan harga akan naik atau stok akan menipis. Maka mereka bertindak cepat, bahkan seolah-olah panik, untuk mengamankan keuntungan atau kebutuhan jangka panjang.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan moral disengagement—ketika seseorang membenarkan tindakannya dengan logika: “Kalau saya tidak ambil sekarang, orang lain yang akan ambil.”

Masalahnya, ketika banyak orang berpikir demikian, kelangkaan semu benar-benar tercipta.

3. Bias Informasi dan Penularan Emosi

Media sosial mempercepat apa yang disebut availability heuristic. Video antrean panjang atau rak kosong jauh lebih mudah diingat daripada pernyataan resmi bahwa distribusi aman. Informasi visual memicu emosi lebih kuat daripada klarifikasi teks.

Ditambah lagi efek social contagion—panik yang menular. Melihat wajah tegang orang lain atau membaca pesan berantai bernada darurat memicu respons emosional yang sama, tanpa sempat diproses secara rasional.

Lingkaran Setan Persepsi

Siklusnya sederhana namun berbahaya:

Isu muncul → kecemasan meningkat → sebagian orang menimbun → stok ritel menipis → publik melihat bukti fisik → kepanikan meluas.

Pada titik ini, yang menggerakkan pasar bukan lagi supply dan demand semata, melainkan persepsi risiko dan emosi kolektif.

Fenomena di Bener Meriah menjadi pengingat bahwa stabilitas sosial tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan barang, tetapi juga oleh kualitas komunikasi publik. Dalam situasi sensitif, kecepatan pemerintah daerah memberikan klarifikasi sama pentingnya dengan menjaga kelancaran distribusi.

Karena dalam krisis modern, yang paling cepat habis sering kali bukan barangnya—melainkan rasa tenang masyarakat.