Breaking News
UMUM  

Ketika Longsor Menghapus Nisan: Pulang Kampung yang Tak Lagi Punya Tujuan

Ziarah kubur di salah satu lokasi kuburan umum yang berada di lereng bukit di kampung Linung kecamatan Bintang. Foto: KenNews.id

KenNews.id – Ada luka yang tidak berdarah, tapi menghantam batin seperti palu.

Bagi Adi, seorang perantau yang pulang menjelang Ramadhan, pulang kampung bukan sekadar ritual tahunan. Ia pulang karena ada panggilan jiwa: bertemu keluarga, menatap kampung halaman, lalu menundukkan kepala di pusara dua orang yang paling ia rindukan—ayah dan ibunya.

Namun kepulangan kali ini berubah menjadi kepulangan paling sunyi.

Ia datang membawa rindu, tapi yang ia temukan justru kehampaan.

“Saya sudah dengar dari saudara yang lain, area pekuburan umum tempat orang tua saya dimakamkan juga terkena longsor. Tapi saya tidak sangka kondisinya separah ini,” kata Adi kepada KenNews.id, Rabu, 18 Februari 2026, di kawasan pekuburan umum masyarakat Kecamatan Bintang.

Longsor yang melanda kawasan itu pada 26 November 2025 lalu ternyata tidak hanya menggulung tanah dan batu. Ia juga menggulung sesuatu yang jauh lebih sakral: jejak kasih sayang yang ditinggalkan orang tua, dan tempat seorang anak biasa menitipkan rindu.

Adi berdiri di lokasi pekuburan itu seperti orang kehilangan arah. Ia mencari nisan, mencari tanda, mencari batu kecil yang dulu ia kenali. Tapi semua telah berubah. Tanah runtuh, permukaan bumi seperti disobek, dan kuburan-kuburan yang dulu tertata kini lenyap seperti tidak pernah ada.

“Kuburan ibu bapak saya telah hilang,” ujarnya.

Kalimat itu pendek, tapi menghantam keras. Matanya berkaca-kaca. Ia menahan tangis, namun wajahnya sudah lebih dulu mengaku kalah.

Karena bagi seorang anak, kehilangan kuburan orang tua bukan kehilangan sebidang tanah.

Itu kehilangan titik pulang.

Itu kehilangan tempat untuk berbisik pelan, meminta maaf, dan mengadu kepada dua sosok yang dulu selalu ada, sebelum dunia merampas mereka satu per satu.

Orang bisa berkata, doa bisa dipanjatkan dari mana saja.

Benar.

Tapi ziarah bukan hanya tentang doa.

Ziarah adalah bentuk cinta yang tidak selesai. Ia adalah cara seorang anak menyentuh kembali kenangan, menahan rindu yang tak bisa dipeluk, dan mengobati kesepian yang tidak bisa ditenangkan dengan kata-kata.

“Walaupun mendoakan orang tua bisa di mana pun, tapi hanya berziarah yang dapat mengobati rasa rindu,” katanya lirih.

Kini, longsor telah menghapus nisannya. Menghapus nama di batu. Menghapus tanda bahwa di sana pernah ada ayah dan ibu yang tidur dalam damai.

Dan ketika sebuah bencana menghilangkan kuburan, sebenarnya ia tidak hanya merusak tanah.

Ia merusak hubungan batin antara anak dan orang tua.

Ia memutus ruang paling sunyi tempat manusia biasanya berdamai dengan kehilangan.

Adi pulang kampung untuk menemukan doa.

Tapi yang ia temukan justru kenyataan yang lebih kejam: bahkan tempat orang tua beristirahat pun bisa hilang tanpa sempat berpamitan.

Di tanah Aceh, longsor bukan sekadar peristiwa alam.

Kadang ia adalah tragedi yang mencuri sesuatu yang tak bisa diganti:
tempat rindu itu disemayamkan.