Oleh: Tazkir, S.Pd., M.Pd
KenNews.id – Menunggu hari Bulan suci Ramadan kembali hadir membawa keberkahan dan kedamaian bagi umat Islam. Di wilayah Gayo, Aceh, tradisi dan kearifan lokal dalam menyambut bulan penuh ampunan ini masih terjaga dengan kuat.
Masyarakat yang kaya akan budaya tersebut memiliki beragam kebiasaan khas yang diwariskan secara turun-temurun sebagai wujud rasa syukur sekaligus persiapan spiritual menyongsong Ramadan.
Salah satu tradisi yang sangat dikenal adalah megang. Tradisi ini menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan di tengah keluarga serta masyarakat.
Megang menjadi momen refleksi diri, mempererat silaturahmi, dan membangun semangat baru untuk menjalani ibadah puasa dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan. Setiap keluarga pun mulai mempersiapkan diri, baik secara lahir maupun batin.
Ziarah Kubur
Ziarah kubur menjadi bagian penting dalam rangkaian megang. Tradisi ini biasanya dilaksanakan satu atau dua hari sebelum Ramadan.
Masyarakat berbondong-bondong mendatangi makam orang tua dan kerabat untuk membersihkan area kuburan, memperbaiki nisan, menabur bunga, membaca Al-Qur’an, melantunkan Surah Yasin, serta memanjatkan doa.
Kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat akan kematian dan kefanaan hidup.
Melalui ziarah, diharapkan keimanan semakin kuat dan hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta keluarga yang telah berpulang tetap terjaga melalui doa-doa yang tulus.
Menyiapkan Hidangan Khas Gayo
Megang juga identik dengan persiapan makanan khas daerah sebagai bekal sahur dan berbuka puasa. Makanan tradisional (lepat Gayo), masyarakat biasanya menyembelih ayam kampung atau membeli daging sapi atau kerbau sebagai simbol rasa syukur dan kecukupan rezeki. Daging tersebut diolah menjadi berbagai masakan rumahan yang kaya rempah, lalu disantap bersama keluarga besar.
Aroma masakan yang mengepul dari dapur-dapur rumah menambah hangat suasana kampung.
Hidangan daging sapi, gulai kerbau, maupun ayam kampung menjadi sajian utama saat makan bersama, melambangkan kebersamaan dan berbagi kebahagiaan menjelang Ramadan.
Lepat Gayo
Lepat Gayo terbuat dari tepung beras yang diisi parutan kelapa dan gula aren, kemudian dibungkus daun pisang. Makanan ini dapat bertahan lama, bahkan berbulan-bulan, tanpa mudah basi. Jika mengeras, lepat cukup dikukus, dipanggang, atau digoreng kembali. Rasanya semakin nikmat ketika disajikan bersama secangkir kopi Gayo yang hangat.
Kanyi
Kanyi merupakan hidangan beras berwarna kuning yang dicampur rempah-rempah herbal seperti kunyit, ungke, serta kulit daging kerbau atau sapi yang telah dikeringkan dan dibakar hingga menghasilkan aroma khas. Selain lezat, makanan ini dipercaya memiliki manfaat kesehatan, terutama untuk meredakan gangguan lambung.
Berkumpul di Rumah Orang Tua
Tradisi lain yang tak kalah penting adalah berkumpul di rumah orang tua sehari sebelum Ramadan. Momen ini menjadi ajang mempererat tali kekeluargaan sekaligus mempersiapkan diri secara spiritual. Dalam kebersamaan tersebut, keluarga memasak dan menyantap hidangan bersama seperti daging sapi, kerbau, atau ayam kampung yang telah diolah menjadi gulai, rendang, atau masakan tradisional lainnya.
Beberapa kegiatan yang biasa dilakukan antara lain:
• berdoa bersama memohon keberkahan;
• berdiskusi tentang rencana ibadah puasa;
• menyiapkan hidangan berbuka;
• saling memaafkan dan mempererat silaturahmi;
• serta makan bersama dalam suasana hangat dan penuh canda.
Kebersamaan tersebut menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat dan menghadirkan suasana positif di tengah keluarga. Tradisi makan bersama bukan sekadar kegiatan fisik, tetapi juga sarana membangun cinta dan keharmonisan.
Penutup
Megang bukan hanya warisan budaya, melainkan sarana memperkuat nilai keimanan, kekeluargaan, dan kepedulian sosial. Tradisi ini mengajarkan bahwa Ramadan sebaiknya disambut dengan hati yang bersih, hubungan yang harmonis, serta rasa syukur yang mendalam.
Semoga kebiasaan baik ini terus terjaga dari generasi ke generasi dan membawa keberkahan bagi seluruh keluarga. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan.
*Penulis: Guru SMA Negeri 1 Bukit




