Breaking News

Banjir Bandang Pantan Nangka Aceh Tengah: Rakyat Bangkit Sendiri, Pemerintah Tenggelam dalam Diam

Warga, relawan gercep dan masyarakat dari kampung tetangga Pantan Nangka manfaatkan kayu hanyut untuk membangun rumah korban banjir bandang. Foto: Eli Sudarman

TAKENGON | KenNews.id – Memasuki hari ketiga pembangunan hunian layak bagi korban banjir bandang di Dusun Binjei, Kampung Pantan Nangka, semangat warga justru semakin membara. Korban banjir bersama tim relawan Gerak Cepat (Gercep), bahkan dibantu masyarakat dari kampung tetangga, turun langsung ke lapangan dengan antusias tinggi untuk mempercepat proses pembangunan rumah darurat.

Tokoh Masyarakat Pantan Nangka, Eli Sudarman mengatakan, progres pembangunan saat ini menunjukkan hasil menggembirakan. Dua unit rumah yang sedang dikerjakan hampir selesai dan tinggal menunggu penyempurnaan akhir.

“Hari ini rumah yang ke-2 dan ke-3 sudah hampir rampung, sekitar 80 persen. Besok insyaallah selesai dan besok juga kita akan langsung lanjutkan rumah yang keempat,” kata Eli kepada KenNews.id, Selasa, 10 Februari 2026.

Ia menegaskan, tekad warga hanya satu: memastikan seluruh korban banjir sudah memiliki hunian yang layak sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Meski sederhana, rumah tersebut diharapkan menjadi tempat aman bagi keluarga korban untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih normal.

“Tekad kita hanya satu. Seminggu lagi sebelum penyambutan bulan Ramadhan, semua warga korban sudah memiliki hunian. Walaupun sederhana, tapi sudah bisa kita anggap layak,” ujarnya.

Namun di tengah semangat gotong royong yang menguat, rasa kecewa terhadap sikap pemerintah justru semakin mengendap di hati warga korban. Eli menyebut, hingga saat ini pemerintah belum menunjukkan langkah nyata yang dapat dirasakan langsung oleh korban, selain bantuan kebutuhan pokok yang hanya cukup untuk bertahan hidup.

“Sebagai warga korban, kami masih kecewa terhadap sikap pemerintah yang sampai saat ini belum memberikan apa-apa, selain kebutuhan yang hanya cukup untuk bertahan hidup,” katanya.

Menurut Eli, bahkan informasi dan kejelasan terkait rencana penanganan pascabencana pun belum pernah diterima secara resmi oleh masyarakat. Baik dari pemerintah kabupaten hingga tingkat kampung, warga mengaku masih berjalan dalam ketidakpastian.

“Jangankan sebuah realisasi, terkait informasi dan janji saja belum kita terima. Baik dari pemerintah tingkat kabupaten, bupati, bahkan sampai tingkat reje sekalipun. Jangankan di tingkat janji, di tingkat informasi dan kejelasan saja sepertinya sulit kami dapatkan,” ungkapnya.

Meski demikian, Eli menyampaikan bahwa warga tetap berharap akan ada kabar baik dalam waktu dekat dari pihak terkait. Namun ia juga menegaskan, masyarakat korban tidak akan menyerah dan terus melakukan konsolidasi untuk mencari jalan keluar.

“Besar harapan kami ada berita baik yang kami dengar dalam waktu dekat dari pihak yang terkait bencana ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga korban terus berdiskusi dan melakukan konsolidasi agar dapat segera lepas dari keterpurukan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan aksi bersama akan dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi jika pemerintah terus abai.

“Namun demikian kami juga tidak akan menyerah. Demi mempertahankan hidup, demi menjaga masa depan keluarga, setiap saat kami terus melakukan konsolidasi dan diskusi antar sesama warga korban agar secepatnya terlepas dari keterpurukan ini. Tidak tertutup kemungkinan kami juga akan melakukan aksi bersama untuk turun ke jalan sebagai salah satu cara penyampaian aspirasi kami,” tutup Eli.