Puisi Esai oleh L K Ara
Di kaki Bur Telege yang menjulang senyap,
danau Laut Tawar memantulkan pagi
dengan tenang seperti jiwa para leluhur.
Hari itu, alam Gayo menunduk sedikit lebih khusyuk,
karena seorang tamu istimewa akan datang,
bukan raja, bukan juga pejabat tinggi,
melainkan bintang film
yang membawa cerita ke layar lebar:
Reza Rahadian, namanya.
Ia datang untuk Black Coffee,
film yang akan diseduh dari tanah kami sendiri—
dari aroma arabika yang tumbuh di antara kabut,
dari dialog yang lahir dari percakapan warung,
dari cinta yang tumbuh pelan di perbukitan dan kebun kopi.
Sambutan pun digelar:
bukan dengan karpet merah,
tetapi dengan Tari Munalo—
tarian adat Gayo yang menggetarkan bumi,
gerak kaki yang menyentuh roh penjaga bukit,
dan lenggak tubuh yang mengisahkan
betapa orang Gayo menerima tamu
dengan seluruh kebudayaan mereka.
“Selamat datang Reza,”
kata seorang pemuda dalam syair adat,
“Ini tanah kami,
tempat kopi diseduh dengan doa,
tempat kisah dirajut oleh para petani dan penyair,
dan engkau kini bagian dari kisah itu.”
Di pundaknya diselempangkan upuh ulen-ulen,
kain adat yang telah menyambut banyak tamu
tapi tetap istimewa untuk yang baru tiba.
Di hatinya, tersimpan kekaguman,
karena bukan hanya film yang ia bawa,
tapi juga rasa hormat yang ia terima.
Tari Munalo terus menari,
seperti semangat rakyat Gayo
yang mengalir dalam denyut sejarah—
tarian bukan sekadar hiburan,
melainkan bahasa jiwa
yang berkata:
“Kami siap dilihat, didengar, dan diingat.”
⸻
Catatan Kaki:
1. Tari Munalo: Tarian penyambutan tamu agung khas Gayo, penuh semangat dan simbol penghormatan.
2. Upuh Ulen-Ulen: Kain adat Gayo sebagai lambang penerimaan dan restu bagi tamu terhormat.
3. Black Coffee: Judul film yang akan dibintangi Reza Rahadian, dengan latar alam dan budaya Gayo.
4. Reza Rahadian: Aktor nasional Indonesia, dikenal lewat peran-perannya yang kuat dan berkarakter.


Respon (13)
Komentar ditutup.