Breaking News
OPINI  

OPEH PINGEN TE: Ketika Kemenangan Politik Tak Membawa Perubahan Nasib

Pelepah Pinang. Foto: Net

Oleh: Mustawalad

Dalam kehidupan masyarakat Gayo, pinang bukan sekadar tumbuhan yang tumbuh di halaman rumah. Pinang juga hidup dalam bahasa, perumpamaan, dan cara masyarakat menyindir keadaan. Dari pohon, buah, hingga pelepahnya, pinang dapat menjadi cermin untuk membaca perilaku manusia, termasuk dalam urusan politik.

Salah satu penggalan lagu Kayu Pirak, karya Zul Dewantara yang dipopulerkan oleh Ivan WY, berbunyi:

Pinang rêjê arap ni umah
Bêlangi rupê gêrê bêruah

Lirik tersebut menggambarkan pinang yang tampak indah di depan rumah, tetapi tidak menghasilkan buah. Elok dipandang, tetapi tidak memberi hasil yang bisa dinikmati.

Dalam politik, gambaran seperti ini mengingatkan kita pada sesuatu yang tampak menjanjikan, tetapi manfaatnya belum tentu dirasakan. Namun, ada perumpamaan Gayo lain yang lebih getir. Bukan tentang pohon yang tidak berbuah, melainkan tentang pelepah yang terpaksa menjadi piring.

“Opeh pingen te.”

Secara harfiah, ungkapan ini berarti pelepah pinang adalah piring kita. Dalam gambaran kehidupan yang serba kekurangan, seseorang bahkan harus menunggu pelepah pinang jatuh untuk menjadikannya alas makan.

Ungkapan ini menyimpan makna tentang kemiskinan yang telah sampai pada titik paling sempit: ketika seseorang tidak lagi punya banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tetapi, jika ungkapan ini kita bawa ke dalam kehidupan politik, ada ironi yang menarik untuk direnungkan. Terutama bagi mereka yang telah ikut berjuang memenangkan seorang calon, mengerahkan tenaga, mengorbankan waktu, mengajak keluarga, meyakinkan tetangga, bahkan mempertaruhkan hubungan sosial demi kemenangan politik seseorang.

Mereka ikut mengantar calon menuju kursi kekuasaan. Mereka bersorak ketika kemenangan diumumkan. Mereka merasa menjadi bagian dari perjalanan panjang yang akhirnya sampai ke tujuan.

Namun, setelah calon itu terpilih, kehidupan mereka tidak banyak berubah.

Kursi kekuasaan telah diduduki. Pelantikan telah dilaksanakan. Pidato kemenangan telah disampaikan. Para pendukung yang dahulu berdesakan di panggung kampanye perlahan kembali ke rumah masing-masing, menghadapi persoalan hidup yang sama seperti sebelum pemilihan.

Sementara itu, sebagian dari mereka mungkin masih menunggu. Menunggu diperhatikan, menunggu kesempatan, menunggu janji yang pernah terdengar, atau sekadar menunggu agar keberadaan mereka tidak dilupakan.

Pada akhirnya, mereka seperti orang yang berdiri di tepi pohon pinang, berharap ada pelepah yang jatuh agar bisa dijadikan piring.

Mereka ikut memenangkan kekuasaan, tetapi tidak ikut merasakan manfaat dari kemenangan itu.

Menang untuk Siapa?

Inilah salah satu pertanyaan penting dalam politik lokal: ketika seorang calon menang, siapa sebenarnya yang menikmati kemenangan tersebut?

Dalam demokrasi, kemenangan seorang calon tidak berarti bahwa setiap pendukungnya otomatis berhak memperoleh jabatan, proyek, pekerjaan, atau keuntungan pribadi. Jabatan publik bukan hadiah untuk kelompok pemenang, dan anggaran negara bukan milik tim sukses. Pengisian jabatan serta penggunaan sumber daya publik harus mengikuti aturan, kompetensi, dan kepentingan masyarakat luas.

Namun, persoalannya berbeda ketika para pendukung merasa ditinggalkan setelah pemilihan selesai, ketika komunikasi yang dahulu begitu intens mendadak terputus, atau ketika aspirasi masyarakat yang diperjuangkan selama kampanye tidak lagi mendapat tempat.

Yang mereka harapkan tidak selalu berupa imbalan pribadi. Bisa jadi mereka ingin jalan kampung diperbaiki, pelayanan publik dibenahi, anak-anak memperoleh kesempatan pendidikan, petani mendapatkan perhatian, atau pemerintah lebih tanggap terhadap kesulitan warga.

Mereka ingin melihat bahwa perjuangan politik yang dilakukan tidak berhenti pada pergantian orang di kursi kekuasaan, tetapi menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan bersama.

Di sinilah makna opeh pingen te menjadi relevan.

Pelepah pinang dalam perumpamaan ini bukan lagi sekadar benda yang digunakan untuk makan. Ia menjadi lambang harapan yang tersisa ketika segala sesuatu yang dijanjikan terasa jauh dari jangkauan.

Orang yang dahulu berdiri paling depan saat kampanye bisa saja kembali berdiri paling belakang setelah kemenangan. Mereka yang dahulu dianggap penting untuk mengumpulkan suara, belum tentu tetap dianggap penting ketika kekuasaan sudah berada di tangan orang yang mereka dukung.

Tentu, tidak semua pemimpin bersikap demikian dan tidak semua pendukung memiliki pengalaman yang sama. Namun, keadaan semacam ini patut menjadi bahan evaluasi ketika hubungan antara pemimpin dan masyarakat hanya tampak dekat menjelang pemilihan, kemudian menjauh setelahnya.

Pendukung Bukan Sekadar Pengumpul Suara

Politik elektoral sering kali membuat hubungan antara calon dan masyarakat berlangsung sangat intens dalam waktu singkat. Rumah dikunjungi, tangan dijabat, keluhan didengar, dan janji disampaikan. Nama-nama yang sebelumnya tidak dikenal mendadak menjadi akrab.

Namun, kedekatan yang dibangun selama kampanye seharusnya tidak berhenti ketika hasil pemilihan diumumkan.

Seorang pemimpin dipilih bukan semata-mata karena berhasil mengumpulkan dukungan, melainkan karena setelah terpilih ia memegang tanggung jawab publik. Ukuran keberhasilannya tidak hanya terletak pada banyaknya orang yang hadir dalam kampanye atau meriahnya perayaan kemenangan, tetapi juga pada kualitas pelayanan, kebijakan yang dijalankan, keterbukaan pemerintah, dan manfaat pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Pendukung pun perlu memahami batas antara perjuangan politik dan kepentingan publik. Tidak setiap orang yang membantu kemenangan harus memperoleh keuntungan pribadi. Akan tetapi, setiap warga berhak memperoleh pelayanan yang adil tanpa harus menunjukkan kedekatan dengan penguasa.

Jangan sampai akses terhadap pelayanan, bantuan, atau kesempatan ekonomi seolah-olah hanya terbuka bagi mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan. Jika hal itu terjadi, persoalannya bukan sekadar pendukung yang merasa kecewa, melainkan prinsip kesetaraan warga yang perlu dipertanyakan.

Demokrasi tidak seharusnya melahirkan dua kelompok: mereka yang dekat dengan kekuasaan dan mereka yang hanya bisa menonton dari kejauhan.

Sebab ketika pelayanan publik berjalan berdasarkan kedekatan, masyarakat akan belajar bahwa suara politik lebih berharga sebagai alat tawar-menawar daripada sebagai hak warga negara.

Dari Panggung Kemenangan ke Dapur Rakyat

Ada jarak yang sering kali tidak terlihat antara panggung kemenangan dan dapur rakyat.

Di panggung, kemenangan dirayakan dengan sorak-sorai, senyum, dan ucapan terima kasih. Di dapur, sebagian warga kembali menghitung uang belanja, memikirkan biaya sekolah anak, mencari cara membayar utang, atau berharap hasil kebun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi masyarakat yang hidup dari pertanian, persoalan ekonomi tidak menunggu sampai masa jabatan berakhir. Harga komoditas berubah, biaya produksi meningkat, jalan menuju kebun rusak, dan kebutuhan rumah tangga terus berjalan.

Bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, perubahan politik baru terasa berarti apabila diikuti perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka tidak membutuhkan pemimpin yang hanya mengingat pendukung ketika pemilihan tiba. Mereka membutuhkan pemerintahan yang hadir ketika jalan rusak, ketika harga kebutuhan pokok membebani keluarga, ketika pelayanan kesehatan sulit dijangkau, dan ketika anak-anak membutuhkan kesempatan yang lebih baik.

Kemenangan politik memang berlangsung pada hari pemungutan suara, tetapi tanggung jawab politik berlangsung sepanjang masa jabatan.

Jika setelah kemenangan rakyat tetap harus menghadapi persoalan yang sama tanpa saluran pengaduan yang berfungsi, tanpa pelayanan yang membaik, dan tanpa kebijakan yang menjawab kebutuhan mereka, wajar jika muncul pertanyaan tentang arti kemenangan tersebut bagi kehidupan masyarakat.

Bukan berarti setiap kesulitan warga harus diselesaikan seketika. Tidak ada pemerintahan yang mampu memenuhi semua kebutuhan dalam satu malam. Namun, masyarakat berhak mengetahui apa yang sedang dikerjakan, apa yang belum tercapai, apa kendalanya, dan bagaimana pemerintah mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.

Keterbukaan seperti itulah yang membedakan janji kampanye dari tanggung jawab pemerintahan.

Jangan Biarkan Rakyat Menunggu Pelepah Jatuh

Dalam perumpamaan opeh pingen te, ada sesuatu yang terasa menyedihkan: manusia tidak lagi menunggu sesuatu yang pasti, melainkan berharap pada apa yang kebetulan jatuh dari pohon.

Pelepah itu datang tanpa kepastian. Hari ini mungkin ada, besok belum tentu. Sementara kebutuhan untuk makan tidak bisa ditunda sampai alam berbaik hati.

Begitu pula ketika seseorang menggantungkan seluruh harapannya pada kedekatan dengan seorang calon. Ia mungkin telah bekerja keras memenangkan calon tersebut, tetapi setelah pemilihan selesai, nasibnya tetap bergantung pada apakah ia diingat, dipanggil, atau diberi perhatian.

Di sinilah masyarakat perlu membedakan antara hak dan kemurahan hati.

Pelayanan publik bukan kemurahan hati seorang pejabat. Pembangunan bukan hadiah dari pemimpin kepada pendukungnya. Bantuan sosial bukan pemberian berdasarkan kesetiaan politik. Semua itu harus dikelola berdasarkan aturan, kebutuhan, dan hak warga negara.

Jika seseorang harus terus menunggu belas kasihan orang yang pernah dimenangkannya hanya untuk memperoleh akses terhadap kesempatan yang semestinya terbuka secara adil, ada sesuatu dalam hubungan politik itu yang perlu dibenahi.

Karena itu, kritik terhadap politik tidak cukup berhenti pada kekecewaan karena seseorang tidak mendapatkan bagian setelah kemenangan. Kritik yang lebih mendasar harus diarahkan pada bagaimana kekuasaan dijalankan, bagaimana janji diterjemahkan menjadi kebijakan, dan apakah manfaat pembangunan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Pendukung juga perlu mengubah cara memandang kemenangan. Jangan hanya bertanya, “Apa yang saya dapat setelah calon saya menang?” Pertanyaan yang lebih penting ialah, “Apa yang berubah bagi masyarakat setelah pemimpin itu terpilih?”

Dengan begitu, politik tidak menjadi sekadar transaksi antara pemberi suara dan penerima kekuasaan, tetapi menjadi sarana memperjuangkan kepentingan bersama.

Opeh Pingen Te sebagai Cermin Politik Gayo

Masyarakat Gayo memiliki kekayaan ungkapan yang mampu menjelaskan keadaan sosial dengan bahasa sederhana, tetapi tajam. Opeh pingen te adalah salah satunya.

Ia mengingatkan kita pada manusia yang hidup dalam keterbatasan, pada keluarga yang harus memanfaatkan apa saja yang tersedia, dan pada keadaan ketika pilihan semakin sedikit.

Dalam politik, ungkapan itu dapat menjadi cermin bagi hubungan antara pemimpin, pendukung, dan masyarakat.

Jangan sampai orang-orang yang dahulu ikut mengantarkan seorang calon menuju kekuasaan justru kembali menjalani kehidupan seolah-olah tidak pernah ada perubahan. Jangan sampai kemenangan hanya menjadi cerita indah bagi mereka yang berada di atas panggung, sementara masyarakat di bawahnya masih sibuk mencari cara agar dapurnya tetap mengepul.

Namun, lebih jauh lagi, jangan sampai ukuran keberhasilan politik ditentukan oleh berapa banyak pendukung yang memperoleh keuntungan pribadi. Ukurannya haruslah seberapa jauh pemerintahan mampu memperbaiki kehidupan masyarakat secara adil, termasuk mereka yang tidak memilih pemenang.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, tim sukses akan bubar, dan pesta kemenangan akan menjadi kenangan. Yang tersisa adalah kehidupan masyarakat beserta hasil nyata dari kebijakan yang telah dijalankan.

Pinang raja yang tidak berbuah mengajarkan kita tentang penampilan tanpa hasil. Opeh pingen te mengingatkan kita pada kehidupan yang terdesak hingga harus menunggu pelepah jatuh untuk dijadikan piring.

Di antara keduanya, ada satu pelajaran politik yang layak direnungkan: kemenangan calon bukanlah tujuan akhir demokrasi. Kemenangan itu baru bermakna ketika kekuasaan yang lahir darinya bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Jangan biarkan rakyat hanya menjadi tangga untuk mencapai kursi kekuasaan. Jangan pula biarkan mereka terus menunggu sisa perhatian setelah pesta kemenangan selesai.

Sebab jika rakyat telah memberikan suaranya, tetapi setelah pemilihan hanya bisa berharap pada pelepah pinang yang jatuh, maka yang patut dipertanyakan bukan sekadar nasib pendukung yang terlupakan.

Yang perlu diperiksa adalah apakah kemenangan politik itu benar-benar telah berubah menjadi manfaat bagi masyarakat.

Jangan sampai rakyat ikut memenangkan pemimpin, tetapi setelah pemimpin menang, rakyat kembali menjadi penonton—menunggu pelepah jatuh, sekadar agar bisa makan.


Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari KEN NEWS

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca