Breaking News
Satire  

Apa Kabar Aktivis Penunggu Jatah

Ilustrasi aktivis tukang kolektor. Foto: Net

KenNews.id – Ada ironi yang begitu telanjang di hadapan kita—dan lebih menyakitkan lagi, ia terjadi di ruang yang seharusnya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang mengaku peduli.

Di sebuah acara ulang tahun sebuah media online di Cafe Teluk Mendale beberapa waktu lalu, suasana terlihat biasa saja. Tamu berdatangan, duduk berkelompok, saling menyapa, tertawa, dan berbagi cerita. Seperti lazimnya, orang-orang akan berkumpul dengan mereka yang sefrekuensi—yang dianggap satu visi, satu perjuangan.

Namun, di balik suasana itu, terselip percakapan yang menampar akal sehat.

Seorang tamu menunjuk ke satu meja. Tanpa menunggu jawaban, ia berkata dengan nada getir, “Mereka aktivis yang merusak Gayo.”

Kalimat itu bukan sekadar tuduhan kosong. Ia disusul cerita yang lebih pahit—tentang praktik memeras, tentang menjadikan setiap peristiwa sebagai ladang uang, tentang datang ke narasumber bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk menagih “jatah”. Dan setelah itu? Pergi, bersenang-senang, seolah tak ada beban moral sedikit pun.

Ini bukan sekadar penyimpangan. Ini pengkhianatan.

Pengkhianatan terhadap makna aktivisme itu sendiri.

Aktivis seharusnya menjadi suara yang tak bisa dibeli, berdiri di garis depan untuk kebenaran, bahkan ketika itu tidak menguntungkan. Tapi yang terjadi hari ini? Sebagian justru menjadikan label “aktivis” sebagai kedok untuk praktik kotor yang tak beda dengan premanisme berbalut idealisme palsu.

Lebih menyakitkan lagi ketika seorang aktivis senior hanya bisa berbisik, penuh rasa malu: “Malu kita, bang… mereka masih muda tapi otaknya sudah rusak. Sepertinya dulu dipimpin oleh ketua yang rusak juga.”

Kalimat itu adalah pengakuan sekaligus tamparan. Bahwa kerusakan ini bukan tiba-tiba. Ia diwariskan. Dibiarkan. Bahkan mungkin pernah dianggap biasa.

Jika ini terus dibiarkan, maka jangan salahkan publik jika suatu hari nanti kata “aktivis” tidak lagi dihormati, tapi justru dicurigai. Karena ulah segelintir orang yang menjual idealisme demi amplop dan perjalanan.

Ini bukan lagi soal individu. Ini soal marwah.

Dan kalau masih ada yang mengaku aktivis garis lurus, maka diam bukan pilihan. Karena setiap pembiaran adalah bentuk persetujuan diam-diam terhadap kebusukan yang sedang tumbuh.

Kalau tidak diluruskan sekarang, maka yang rusak bukan hanya oknum—tapi seluruh kepercayaan.