Breaking News

Pesan Gajah kepada Anaknya

Anakku—
mendekatlah.
Jangan terlalu jauh dari tubuhku,
sebab dunia sedang sibuk
menjual jarak sebagai kemajuan.

Lihatlah hutan ini—
atau sisa-sisanya.
Dulu ia tempat kita berdzikir,
kini ia telah menjadi proposal,
izin usaha,
dan angka-angka yang sangat saleh di atas kertas.

Manusia berkata:
“Ini demi pembangunan.”
Seolah-olah Tuhan
pernah meminta hutan diganti
dengan beton dan lupa diri.

Anakku,
mereka menebang sambil tersenyum,
bersedekah sambil menghitung,
dan berdoa sambil menghapus jejak.

Mereka pandai sekali—
bahkan bisa menyebut rakus
sebagai rezeki,
dan menyebut hancur
sebagai kemajuan.

Kita?
Hanya gajah.
Tak punya perusahaan,
tak punya pidato,
tak punya alasan canggih
untuk merusak rumah sendiri.

Anakku,
jika suatu hari kau melihat
pohon terakhir tumbang,
jangan kaget
bila mereka meresmikannya
dengan pita dan tepuk tangan.

Dan bila sungai mengering,
mereka akan membuat seminar
tentang pentingnya air.

Jika udara panas,
mereka akan menjual pendingin,
lalu menyebutnya solusi.

Ah, manusia—
makhluk yang bisa kehilangan hutan
lalu menjual kenangan tentangnya.

Tapi dengar ini baik-baik, anakku:
jangan ikut-ikutan menjadi mereka.

Tetaplah jadi gajah
yang tahu jalan pulang,
meski jalan itu
sudah diganti nama menjadi proyek.

Dan jika kau ingin bertasawuf—
jangan pergi jauh.

Cukup pahami ini:
yang jauh dari Tuhan
bukan hutan yang hilang,
melainkan hati
yang menebang tanpa merasa.