Breaking News

Diterjang Hujan Dua Hari, Tiga Jembatan Hanyut: Aceh Tengah Kembali Terisolir

Jembatan Kampung Bergang kembali rusak diterjang banjir. Foto: BPBD Aceh Tengah

TAKENGON|KenNews.id – Aceh Tengah kembali diuji. Hujan tanpa henti selama dua hari sejak 31 Maret 2026 tak hanya memicu banjir di sejumlah kampung, tetapi juga memutus akses vital masyarakat. Tiga jembatan darurat hanyut diterjang derasnya arus sungai, membuat sejumlah wilayah kembali terisolir.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, Rabu, 01 April 2026, menjelaskan bahwa intensitas hujan tinggi sejak sore hingga malam telah menyebabkan banjir genangan di berbagai titik. Kampung Mendale dan Paya Tumpi di Kecamatan Kebayakan, Kampung Mongal di Bebesen, Linung Bulen I di Bintang, serta Kampung Lumut di Linge dan Kampung Bies di Kecamatan Bies menjadi wilayah terdampak.

Tak hanya banjir, longsor juga memperparah keadaan. Badan jalan provinsi lintas Bintang–Simpang Kraft tertimbun material di tiga titik, melumpuhkan akses kendaraan. Sementara itu, debit air sungai yang meningkat drastis mengakibatkan rusaknya tiga jembatan darurat yang sebelumnya dibangun oleh TNI.

Ketiga jembatan tersebut masing-masing berada di Kala Ili (Kecamatan Linge), Burlah dan Bergang (Kecamatan Ketol). Putusnya akses ini berdampak besar, tidak hanya pada mobilitas warga, tetapi juga pada distribusi logistik dan percepatan pembangunan.

Sejumlah kampung di Kecamatan Linge kembali terisolir, di antaranya Kampung Linge, Jamat, Delung Sekinel, Kutenireje, dan Reje Payung. Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Ketol, meliputi Kampung Burlah, Kekuyang, Bintang Pepara, Bergang, dan Karang Ampar.

Lebih jauh, terputusnya Jembatan Kala Ili juga menghambat proses pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) komunal di Kemukiman Jamat. Distribusi material bangunan menjadi terganggu akibat akses yang lumpuh.

“Harapan kita akses ini bisa segera kembali fungsional dan aman. Untuk itu perlu percepatan pemasangan jembatan Bailey di tiga lokasi tersebut sebelum pembangunan jembatan permanen dilakukan,” ujar Andalika.

Saat ini, BPBD telah mengerahkan satu unit excavator untuk membersihkan material longsor di jalur Bintang–Simpang Kraft. Upaya ini ditargetkan agar akses jalan bisa kembali dibuka dan digunakan dalam waktu dekat.

Bencana ini kembali menegaskan rapuhnya infrastruktur di wilayah rawan bencana. Masyarakat kini hanya bisa berharap, penanganan darurat tidak lagi menjadi solusi berulang, melainkan diikuti langkah permanen yang mampu menjamin keselamatan dan konektivitas jangka panjang.