Breaking News

Minum Kopi Gayo di Kamboja

Di negeri yang tak mengenal dingin Tanoh Gayo,
aku meneguk kenangan
dari secangkir kopi yang jauh berjalan.

Ia lahir dari kabut pegunungan,
dari tangan-tangan yang setia
memetik pagi dengan doa,
lalu kini berlabuh
di jalanan Kamboja yang riuh dan asing.

Di antara suara motor
dan bahasa yang tak kupahami,
aroma itu tetap sama—
jujur, pahit, dan hangat
seperti rumah yang tak pernah benar-benar pergi.

Aku duduk di sudut waktu,
mengaduk rindu tanpa sendok,
membiarkan lidahku mengingat
bukit-bukit yang pernah memanggil namaku.

Kopi Gayo ini bukan sekadar minuman,
ia adalah perjalanan—
dari tanah yang basah oleh embun
ke hati yang kering oleh jarak.

Dan di Kamboja,
aku belajar sekali lagi:
bahwa pulang tak selalu langkah,
kadang cukup
dengan satu teguk
yang membawa kita kembali. ‎