Breaking News

FIKAR DI MENDALE

Di Mendale,
tanah tidak lagi sekadar tanah—
ia menjadi sajadah
yang belum selesai sujudnya.

Debu-debu berterbangan
seperti tasbih yang putus,
menghitung kehilangan
tanpa pernah sampai seribu.

Dan langit—
menggantung rendah,
seperti dahi yang terlalu lama
menempel pada takdir.


Fikar berdiri—
bukan sebagai penyair,
melainkan sebagai muazin luka
yang mengumandangkan sunyi.

Puisinya bukan kata,
melainkan zikir
yang terselip di antara reruntuhan.

Ia membaca—
dan setiap huruf
jatuh seperti istighfar
di dada yang retak.


“Ya Allah…”

(hening yang panjang)

di Mendale,
nama-Mu tidak lagi diucapkan dengan lantang—
ia pecah
menjadi bisikan-bisikan kecil
di balik air mata.


Rumah-rumah roboh
seperti iman yang diuji
tanpa jeda.

Tiang-tiang patah
seperti doa
yang belum sempat tegak.

Namun di bawahnya—
masih ada
nafas yang menyebut-Mu,
meski tersengal.


Fikar membaca lagi—

bukan untuk menghibur,
tetapi untuk mengingatkan:

bahwa musibah
adalah ayat
yang diturunkan tanpa huruf.

Dan manusia
adalah pembacanya
yang sering gagap.


Seorang ibu
menggenggam tanah,
seperti memegang
sisa-sisa qadar yang tak dipahami.

Ia tidak bertanya lagi: “mengapa?”

Karena “mengapa”
telah larut
dalam “Engkau lebih tahu.”


Di Mendale,
air mata bukan kelemahan—
ia adalah wudhu
bagi jiwa yang terbakar.

Dan luka—
adalah jalan sunyi
menuju pintu yang lebih dalam.


Fikar berhenti sejenak—

ia mendengar sesuatu:

bukan suara manusia,
melainkan gema
dari dalam hati yang patah.


“Jangan tinggalkan kami, ya Rabb…”

suara itu tidak keras,
tetapi lebih kuat
dari seluruh gemuruh dunia.


Maka ia lanjutkan—

membaca seperti orang yang berdoa,
berdoa seperti orang yang kehilangan,
kehilangan seperti orang
yang sedang dipanggil pulang.


Di setiap baitnya,
ada sujud yang tak terlihat.

Di setiap jedanya,
ada langit yang terbuka sedikit.

Dan di setiap air mata,
ada cahaya
yang tidak semua orang mampu melihatnya.


Mendale malam itu
tidak runtuh sepenuhnya.

Karena di antara puing,
masih ada yang berzikir.

Masih ada yang percaya
bahwa roboh
bukan akhir dari bangunan jiwa.


Fikar menutup puisinya—

seperti menutup mushaf
yang baru saja dibaca dengan gemetar.

Namun ayat-ayat itu
tidak kembali ke kertas—

ia tinggal
di dada orang-orang yang tersisa.


Dan dari tanah yang hancur itu,
lahir satu pengakuan:

kami tidak kehilangan-Mu, ya Rabb—
kami hanya
terlalu lama jauh
dari-Mu. ‎