Breaking News

PANJI SEPUH: NYANYIAN YANG TAK LAGI BERSUARA

Puisi Esai

Panji itu masih berdiri—
di ujung halaman waktu
yang tak lagi ramai.

Ia tak lagi berkibar garang
seperti masa muda,
ketika angin sejarah
memanggilnya dengan teriakan perang
dan sumpah setia.

Kini ia sepuh.
Warnanya pudar,
seratnya retak,
namun justru di situlah
ia menyimpan keutuhan makna.

Kita sering lupa,
bahwa yang tua
bukan berarti usang.

Di kota-kota yang berlari cepat,
panji-panji baru dikibarkan setiap pagi—
mengilap,
penuh janji,
namun miskin ingatan.

Panji sepuh tak berteriak,
ia hanya diam
di antara riuh yang tak mengenalnya.

Dan dalam diam itu,
ia menyimpan pertanyaan:

siapa yang masih membaca sejarah
tanpa tergesa?

Panji sepuh adalah tubuh waktu.
Ia telah menyaksikan tangan-tangan
yang menggenggamnya dengan harapan,
lalu melepasnya dengan luka.

Ia pernah menjadi saksi
ketika tanah ini dipertaruhkan,
ketika nama-nama dilahirkan
dalam keberanian
dan diakhiri dalam keheningan.

Namun hari ini,
ia berdiri sendiri—
tanpa sorak,
tanpa penghormatan.

Hanya angin
yang masih setia menyapanya.

Dalam tradisi yang kian menjauh,
panji sepuh adalah ayah
yang tak lagi dipanggil,
adalah guru
yang tak lagi ditanya.

Padahal di dalamnya
tersimpan pelajaran
yang tak diajarkan di sekolah:
tentang sabar,
tentang kalah,
tentang bertahan
meski dunia berubah arah.

Kita terlalu sibuk
menjadi baru,
hingga lupa
cara menjadi dalam.

Namun panji sepuh tak marah.
Ia tak menuntut untuk dikenang.

Ia hanya berdiri—
seperti seorang sufi
yang telah selesai dengan dunia,
yang tak lagi mencari pengakuan,
karena telah menemukan makna.

Ia tahu:
waktu bukan musuh,
melainkan guru
yang mengajarkan pelan-pelan
cara melepaskan.

Dan mungkin,
suatu hari nanti
ketika kita lelah berlari,
ketika kilau tak lagi memuaskan,
kita akan kembali—

menatap panji sepuh itu
dengan mata yang berbeda.

Kita akan membaca retaknya
sebagai kitab,
mendengar diamnya
sebagai zikir.

Dan kita akan mengerti:

bahwa yang kita cari selama ini
bukanlah yang baru,
melainkan yang benar.

Panji sepuh tetap berdiri.
Bukan untuk masa lalu,
bukan pula untuk masa kini.

Ia berdiri
bagi mereka
yang siap belajar dari waktu—

bahwa hidup bukan tentang berkibar tinggi,
melainkan tentang
tetap tegak
meski angin tak lagi memanggil.