TAKENGON | KenNews.id – Empat bulan berlalu sejak bencana banjir dan longsor menghantam wilayah pedalaman Aceh Tengah. Namun hingga hari ini, satu pertanyaan sederhana terus menggema di tengah masyarakat: di mana negara?
Negara Absen, Polisi dan Warga Dipaksa Jadi Penyelamat
Di saat pemerintah masih berkutat dalam janji dan perencanaan, justru Kepolisian Resor Aceh Tengah bersama masyarakat yang turun tangan langsung. Sabtu (28/3/2026), mereka bergotong royong membangun jembatan darurat di Kecamatan Rusip Antara—akses vital yang sempat lumpuh total.
Jembatan penghubung antara Kampung Rusip, Mekar Maju, dan Arul Pertik sebelumnya tidak lagi bisa dilalui kendaraan roda empat. Artinya, roda ekonomi terhenti, akses pendidikan terganggu, dan kehidupan masyarakat praktis terisolasi.
Ironisnya, solusi yang hadir bukan dari proyek besar pemerintah, melainkan dari kayu, tenaga warga, dan kepedulian aparat di lapangan.
Kapolres Aceh Tengah, Muhamad Taufiq, melalui Kasi Humas menyebut pembangunan ini sebagai langkah darurat agar akses tetap berjalan. Tapi publik tahu, “darurat” yang terus berulang adalah tanda dari sesuatu yang lebih besar: kegagalan penanganan yang tak kunjung selesai.
Darurat yang Dipelihara?
Pertanyaannya kini bukan lagi soal jembatan darurat itu selesai atau tidak. Tapi kenapa setelah empat bulan, masyarakat masih dipaksa hidup dalam kondisi darurat?
Apakah ini sekadar keterlambatan? Atau memang ada pembiaran?
Di banyak titik terdampak bencana, pola yang sama terus berulang: masyarakat bertahan sendiri, aparat di lapangan bekerja seadanya, sementara pembangunan permanen seolah berjalan di tempat.
Jika jembatan darurat saja harus dibangun dengan gotong royong, lalu di mana anggaran rehabilitasi seperti dijanjikan Pemerintah Pusat?
Gotong Royong Bukan Alasan Negara Menghilang
Tidak ada yang salah dengan gotong royong. Bahkan itu adalah kekuatan utama masyarakat pedalaman. Namun ketika gotong royong dijadikan solusi utama untuk menutup ketidakhadiran negara, di situlah masalah besar muncul.
Masyarakat tidak butuh sekadar bertahan. Mereka butuh kepastian.
Jembatan darurat ini mungkin bisa dilalui hari ini. Tapi bagaimana besok? Bagaimana saat hujan besar kembali datang?
Menunggu Sampai Kapan?
Warga Rusip Antara kini hanya bisa berharap: jembatan darurat ini segera digantikan dengan pembangunan permanen yang layak.
Namun jika melihat lambannya respons hingga hari ini, harapan itu terasa seperti menggantung di atas jembatan kayu—rapuh dan sewaktu-waktu bisa runtuh.
Dan jika kondisi ini terus dibiarkan, maka satu hal yang pasti: bukan hanya jembatan yang rusak, tapi juga kepercayaan masyarakat.

