Breaking News

Gerbux Water Park Ubah Wajah Ekonomi Kenine: Harga Tanah Berpotensi Melonjak 1000 Persen

Salah satu wahana permainan di pemandian air panas Gerbux Waterpark kampung Kenine, Bener Meriah. Foto: KenNews.id

BENER MERIAH| KenNews.id – Siapa sangka, aliran air panas yang dulunya hanya menghangatkan tanah di Kampung Kenine, Kecamatan Timang Gajah, kini ikut “memanaskan” nilai ekonomi kawasan tersebut.

Gerbux Water Park, yang awalnya dibangun sederhana oleh Abdullah, perlahan menjelma bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pemicu perubahan ekonomi yang nyata.

“Dulu saya membeli lahan ini hanya Rp150 juta per hektare,” ujar Abdullah kepada KenNews.id, Senin, 23 Maret 2026, mengenang awal mula ia mengembangkan kawasan tersebut.

Saat itu, Kenine belum banyak dilirik. Lahan masih luas, harga relatif murah, dan aktivitas ekonomi belum begitu menggeliat. Namun, seiring dibukanya pemandian air panas ini dan meningkatnya jumlah pengunjung, situasi mulai berubah.

Kini, nilai tanah di sekitar kawasan itu melonjak drastis.

Terpisah diwaktu yang sama, seorang pengunjung dari luar daerah, H. Ibnu Affan, bahkan secara terbuka menyatakan minatnya untuk membeli lahan di sekitar lokasi wisata tersebut.

“Saya akan beli Rp1,5 miliar per hektare jika ada yang menjual tanah di sekitar daerah ini,” ujarnya.

Lonjakan harga hingga sepuluh kali lipat—sekitar 1000 persen—menjadi indikator kuat bahwa kawasan ini tengah bergerak menuju pusat pertumbuhan baru.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Gerbux Water Park yang berjarak sekitar 19 kilometer dari Takengon dan 80 kilometer dari Bireuen kini rutin didatangi pengunjung dari berbagai daerah, seperti Aceh Tengah, Bireuen, Aceh Utara, hingga Lhokseumawe.

Arus kunjungan tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang sebelumnya tidak ada. Warga setempat mulai membuka kios-kios kecil, menyediakan makanan dan minuman, serta mengelola lahan parkir bagi para pengunjung.

Lapangan kerja informal tumbuh, dan pendapatan masyarakat perlahan meningkat.

Tidak hanya itu, keberadaan wisata ini juga memicu meningkatnya minat investasi, khususnya di sektor properti dan usaha pendukung pariwisata. Lahan yang dulu dianggap biasa, kini memiliki nilai strategis.

Namun, di balik peluang besar itu, tersimpan tantangan yang tidak kecil.

Pertumbuhan ekonomi yang cepat membutuhkan pengelolaan yang bijak. Kenaikan harga tanah yang tinggi, misalnya, bisa menjadi pedang bermata dua—membuka peluang investasi, tetapi juga berpotensi menyulitkan masyarakat lokal untuk mempertahankan kepemilikan lahannya.

Selain itu, keberlanjutan wisata juga sangat bergantung pada kualitas pelayanan dan pengelolaan lingkungan. Abdullah sendiri menegaskan bahwa ia menjaga keaslian sumber air panas yang digunakan.

“Air ini langsung dari sumbernya. Kami tidak menggunakan bahan kimia, sehingga aman untuk manusia dan lingkungan,” katanya.

Pernyataan itu menjadi penting, mengingat keberhasilan wisata berbasis alam sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara eksploitasi dan konservasi.

Kini, Gerbux Water Park tidak lagi sekadar tempat pemandian.

Ia telah menjadi simbol bagaimana sebuah inisiatif lokal mampu menggerakkan ekonomi desa, meningkatkan nilai aset, dan membuka peluang baru bagi masyarakat.

Tinggal bagaimana pengelolaan ke depan mampu menjaga momentum ini—agar kehangatan air yang mengalir dari perut bumi tidak hanya memberi kenyamanan sesaat, tetapi juga kesejahteraan yang berkelanjutan bagi Kabupaten Bener Meriah.