Breaking News

Tenda Sebagai Zawiyah

Di halaman kantor yang dingin oleh aturan,
tenda-tenda berdiri
seperti zawiyah kecil
yang tidak pernah tercantum dalam peta kekuasaan.

Air telah selesai berbicara.
Ia menulis kitabnya sendiri
di dinding rumah yang roboh,
di ladang yang berubah menjadi cermin langit.

Manusia datang dengan tas berisi kehilangan.
Anak-anak membawa sisa tawa
yang belum sempat disita bencana. 🌧️

Seorang ibu membentangkan sajadah
di atas tikar darurat.
Di situlah ia menemukan
bahwa Tuhan lebih dekat
daripada pejabat yang dijadwalkan.

Tasawuf tidak lagi diajarkan
di ruang-ruang sunyi para arif.
Ia turun ke lumpur,
menjadi sabar yang diinjak-injak
namun tidak hancur.

Seorang lelaki berbisik:
“Rumah kami hilang.”

Angin menjawab pelan:
“Yang hilang hanya dinding.
Jalan pulangmu masih di dalam dada.” ✨

Di negeri yang sibuk menghitung angka,
iman belajar menghitung luka.
Statistik naik ke podium,
sementara kemanusiaan duduk di lantai
menunggu dipanggil namanya.

Bantuan datang seperti sedekah cahaya.
Sebungkus nasi
menjadi tafsir baru tentang cinta. 🍚
Segelas air
menjadi hadis tentang persaudaraan.

Malam-malam panjang
adalah wirid tanpa suara.
Dingin yang menggigit
adalah guru yang tidak meminta bayaran.

Di antara kain yang compang-camping,
sebuah kesadaran tumbuh:

bahwa dunia hanyalah tenda sementara,
dan setiap manusia
adalah pengungsi menuju Tuhan.

Maka mereka bersujud
bukan hanya untuk meminta rumah,
tetapi untuk menemukan makna.

Dan dari tanah yang basah oleh luka
naik satu doa yang paling jujur:

“Ya Rabb,
jika Engkau belum memberi kami tempat tinggal,
maka berilah kami hati
yang luas seperti langit-Mu.”