Breaking News

Puisi Tasauf Ekologi: Suara Sunyi yang Kerap Lahir dari Musibah

KenNews.id – Puisi tasauf ekologi adalah pertemuan antara kesadaran spiritual dan kepekaan terhadap alam. Ia tidak sekadar memandang alam sebagai objek, melainkan sebagai ayat-ayat Tuhan yang hidup—bernafas, berzikir, dan menyimpan rahasia ketuhanan. Dalam tradisi ini, manusia bukan pusat, melainkan bagian dari jaringan makhluk yang sama-sama tunduk pada Yang Maha Esa.

Menariknya, puisi jenis ini sering kali justru muncul dengan intensitas yang kuat di tengah musibah: banjir, gempa, kebakaran hutan, atau kerusakan lingkungan. Musibah menjadi semacam “retakan eksistensial” yang membuka kesadaran manusia—bahwa hubungan dengan alam telah lama retak, dan bahwa kerusakan di luar adalah cermin dari kegersangan batin di dalam.

Dalam perspektif tasauf, musibah bukan hanya bencana, tetapi juga teguran halus (lathifah) dari Tuhan. Alam yang rusak bukan sekadar akibat kesalahan teknis manusia, melainkan tanda terputusnya zikir kosmis antara manusia dan semesta. Maka, puisi tasauf ekologi hadir sebagai upaya menyambung kembali hubungan itu—melalui bahasa, melalui perenungan, melalui luka yang disadari.

Puisi dalam konteks ini sering menggunakan metafora religius: air menjadi air mata langit, gunung menjadi punggung sabar, hutan menjadi sajadah yang terbakar. Alam tidak lagi bisu, melainkan berbicara—dan manusia diajak untuk mendengar.

Berikut contoh puisi tasauf ekologi yang lahir dari kesadaran akan musibah:

Zikir yang Terbakar

Hutan itu tidak sedang mati—
ia sedang berzikir dengan api.

Daun-daun yang gugur
bukan jatuh,
melainkan sujud panjang
yang tak sempat kita pahami.

Asap naik ke langit
seperti doa yang kehilangan arah,
tersesat di antara langit-langit kota
yang kita bangun tanpa rasa.

Wahai manusia,
kau kira ini kebakaran—
padahal ini adalah cermin
dari dadamu yang lama tak hujan.

Tanah retak
seperti bibir yang lupa menyebut-Nya,
dan sungai mengering
seperti tasbih yang terputus di tanganmu.

Apakah kau masih ingin menyebut ini musibah,
atau kau mulai berani menyebutnya panggilan?

Puisi semacam ini tidak hanya mengajak pembaca untuk bersedih, tetapi juga untuk bertobat secara ekologis. Ia menggeser cara pandang: dari melihat alam sebagai korban, menjadi melihat diri sebagai bagian dari kerusakan itu sendiri.

Dalam dunia modern yang cenderung eksploitatif, puisi tasauf ekologi menjadi suara perlawanan yang lembut namun dalam. Ia tidak berteriak, tetapi meresap. Tidak menghakimi, tetapi menyadarkan. Dan sering kali, ia lahir dari abu—dari reruntuhan, dari air mata, dari musibah yang membuka mata batin manusia.

Jika diolah lebih jauh, puisi tasauf ekologi bukan hanya karya sastra, melainkan juga jalan spiritual: jalan untuk kembali mendengar zikir alam, dan pada akhirnya, kembali mengenal diri sebagai hamba.

L K Ara