l
Pagi belum selesai membuka matanya
kabut masih menulis doa
di punggung bukit yang sunyi.
Sungai bangun lebih dulu—
ia berlari tergesa
seperti dunia
yang tak pernah sempat bertanya
siapa yang akan ia tenggelamkan hari ini.
Di tepinya
seutas jembatan bambu berdiri kurus,
urat-uratnya tampak
seperti tangan tua
yang terlalu lama menunggu ditolong.
Angin datang
menggoyang pelan.
Bambu berderit—
seperti tasbih yang hampir putus
di jari seorang fakir.
ll
Dari kejauhan
seorang lelaki muncul
dengan langkah yang tidak sepenuhnya miliknya.
Di punggungnya
seorang anak kecil memeluk diam
seperti rahasia
yang takut diketahui waktu.
Kaki lelaki itu menyentuh bambu pertama—
dan bumi seakan menahan napas.
Sungai di bawah
mengamuk tanpa ampun,
menggulung batu
mengunyah ranting
menghafal nama-nama yang pernah jatuh.
“Ya Tuhan,”
bisik angin di sela dedaunan,
“apakah ini yang Kau sebut
jalan pulang?”
lll
Setiap pijakan
adalah ayat yang belum selesai dibaca.
Setiap goyah
adalah ujian
yang ditulis tanpa tinta.
Jembatan itu berguncang
seperti dada manusia
ketika dunia terlalu dekat
dan langit terasa jauh.
Namun pelukan kecil di punggung
menjadi kiblat baru—
ia menuntun langkah
lebih kuat dari tongkat apa pun.
Anak itu tak menangis.
Ia hanya memejamkan mata
seperti sedang menghafal cahaya. ✨
lV
Di tebing seberang
hutan berdiri seperti para wali
diam
tapi menyaksikan.
Pohon-pohon tinggi
mengangkat daun-daunnya
seperti tangan yang berdoa
agar bambu tidak patah
agar sungai lupa menggigit.
Burung-burung tak bernyanyi hari itu.
Mereka hanya terbang melingkar
seperti malaikat yang ragu
haruskah menulis takdir
atau menunggu manusia selesai berusaha.
V
Langkah ke tengah jembatan
adalah langkah paling sunyi.
Di sana
tak ada masa lalu
tak ada masa depan.
Hanya ada gemetar
dan percaya.
Lelaki itu berhenti sekejap.
Air menyembur tinggi
seperti tawa dunia
yang merasa menang.
Namun dari dadanya
naik sebuah zikir
pelan
tapi tajam—
“Jika Engkau lautkan takutku
jadikan aku perahu-Mu…”
Dan bambu itu
tiba-tiba terasa lebih lebar
dari jalan-jalan kota yang sombong.
Vl
Akhirnya
tanah seberang menyentuh telapak.
Tak ada sorak.
Tak ada tepuk tangan.
Hanya lutut yang hampir roboh
dan kening yang ingin sujud
di atas lumpur yang masih basah.
Anak kecil itu turun perlahan,
menatap sungai
seperti menatap mimpi buruk
yang baru saja selesai.
Hutan kembali bernapas.
Burung-burung mengingat lagu.
Dan matahari
diam-diam menyalakan lilin emas
di pundak lelaki itu.
VII (Epilog)
Jembatan bambu itu tetap di sana—
kurus
goyah
terlupa.
Tapi di langit yang tak terlihat
sebuah jembatan lain tumbuh
dari tawakal
menuju selamat.
Karena sesungguhnya
yang dilintasi manusia
bukanlah sungai dunia,
melainkan jarak
antara dirinya
dan Tuhannya.

