Breaking News
BUDAYA  

Permintaan Terakhir Meurah Pupok, Putra Permaisuri Asal Linge di Tengah Fitnah Istana

Kuburan Putra Mahkota Meurah Pupok di Pemakaman Kerkhof Peucut Banda Aceh. Foto: Net

Pagi itu halaman istana Kesultanan Aceh Darussalam dipenuhi orang. Para hulubalang berdiri berbaris, para ulama duduk dengan wajah muram, sementara rakyat menahan napas di kejauhan. Hari itu bukan hari perang, bukan pula hari kemenangan.

Hari itu adalah hari ketika seorang putra mahkota akan dihukum mati.

Di tengah lapangan berdiri seorang pemuda berpakaian putih. Tangannya terikat, wajahnya ditutup kain tipis. Namun tubuhnya tegak dan tenang, seperti seseorang yang telah berdamai dengan takdir.

Ia adalah Meurah Pupok, pewaris takhta Aceh, anak tunggal dari Sultan Iskandar Muda.

Namun sedikit orang yang tahu, bahwa kematian yang akan terjadi hari itu bukan sekadar hukuman. Ia adalah hasil dari intrik istana yang perlahan-lahan disusun dalam bayang-bayang kekuasaan.

Beberapa bulan sebelumnya, istana Aceh dipenuhi bisikan. Desas-desus tentang sebuah dosa besar yang dilakukan putra mahkota mulai menyebar. Para pembisik di sudut-sudut balairung mengulang cerita yang sama: bahwa Meurah Pupok telah mencemari kehormatan seorang perempuan bangsawan.

Cerita itu menyebar begitu cepat.

Terlalu cepat.

Beberapa orang mempercayainya. Sebagian lagi ragu. Namun suara fitnah yang diulang-ulang akhirnya terdengar seperti kebenaran.

Di balik semua itu, ada tangan-tangan yang bekerja dalam gelap.

Di antara mereka disebut nama Putri Kamaliah, permaisuri istana yang dikenal juga sebagai Putroe Phang. Bersama dengan seorang ulama berpengaruh, Nuruddin Ar-Raniry, mereka diyakini oleh sebagian cerita rakyat sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan yang ingin menyingkirkan sang putra mahkota.

Bagi mereka, selama Meurah Pupok hidup, jalan menuju takhta akan selalu tertutup.

Fitnah menjadi senjata yang paling tajam.

Dan ketika kabar itu sampai ke telinga Sultan Iskandar Muda, sang penguasa besar itu tidak hanya menjadi raja yang harus menegakkan hukum—ia juga menjadi seorang ayah yang dipaksa memilih antara darah dagingnya atau hukum negeri.

Di lapangan istana pagi itu, keputusan sudah diambil.

Langkah kaki Sultan terdengar mendekat.

Semua orang menunduk ketika Sultan Iskandar Muda berdiri di hadapan putranya. Di tangannya tergenggam pedang kerajaan, pedang yang selama ini mengantarkan Aceh pada kejayaan.

Namun hari itu pedang itu terasa lebih berat dari biasanya.

Meurah Pupok mengangkat wajahnya perlahan.

“Paduka… Ayahanda…”

Suaranya tenang.

“Ada satu permintaan dari anakanda sebelum hukuman dijalankan.”

Sultan menatapnya dalam-dalam.

“Katakan.”

Meurah Pupok menarik napas panjang.

“Jangan tutup mata anakanda.”

Para hulubalang saling berpandangan.

“Biarkan anakanda melihat wajah Ayahanda untuk terakhir kalinya.”

Suasana menjadi sangat sunyi.

Sultan Iskandar Muda terdiam. Dadanya terasa sesak. Di hadapannya bukan hanya seorang terhukum, melainkan anak yang dulu ia gendong ketika masih kecil.

Ia memberi isyarat kepada penjaga.

Kain penutup wajah itu pun dibuka.

Tatapan ayah dan anak bertemu.

Dalam mata Meurah Pupok tidak ada ketakutan. Hanya kesedihan yang dalam—dan mungkin juga sebuah rahasia yang tak sempat terungkap.

“Ayahanda,” katanya perlahan.

“Jika anakanda memang bersalah, hukumlah anakanda.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun jika anakanda difitnah… semoga Allah suatu hari membuka kebenaran.”

Pedang di tangan Sultan bergetar.

Namun keputusan sudah tidak bisa ditarik kembali.

Di tengah kesunyian halaman istana Kesultanan Aceh, pedang itu akhirnya diangkat.

Dalam satu ayunan, takdir seorang putra mahkota berakhir.

Rakyat Aceh terdiam. Tidak ada sorak, tidak ada suara kemenangan. Hanya kesedihan yang menggantung di udara.

Hari itu seorang ayah kehilangan anaknya.

Namun jauh di dalam bayang-bayang istana, beberapa orang justru melihat jalan menuju kekuasaan mulai terbuka.

Waktu berlalu.
Tahun berganti.

Namun bisik-bisik tentang fitnah itu tidak pernah benar-benar hilang.

Dan di sebuah sudut sunyi Kerkhoff Peucut, makam Meurah Pupok tetap berdiri sendirian, seolah menjadi saksi bahwa dalam sejarah, kebenaran kadang kalah oleh intrik kekuasaan.