Essai
Ketika musibah datang, dunia biasanya sibuk menghitung.
Berapa rumah yang runtuh.
Berapa orang yang meninggal.
Berapa kerugian yang tercatat di laporan pemerintah.
Angka-angka itu penting.
Tetapi angka tidak selalu mampu menyimpan getaran hati manusia.
Di situlah penyair bekerja.
Penyair tidak datang membawa alat berat.
Ia tidak mengevakuasi korban.
Ia juga bukan petugas yang menuliskan laporan resmi.
Namun ia datang dengan sesuatu yang lain:
kata-kata.
Kata-kata yang pelan,
tetapi mampu menyimpan luka manusia lebih lama daripada berita.
Dalam sejarah, banyak penyair lahir dari musibah.
Bencana alam, perang, pengasingan, kemiskinan—semua itu sering menjadi halaman pertama bagi puisi.
Musibah membuat manusia kembali melihat dirinya sendiri.
Betapa rapuh hidup ini.
Betapa kecil manusia di hadapan waktu dan Tuhan.
Di tengah reruntuhan itulah penyair sering menemukan suaranya.
Pada buku Zikir di Hadapan Musibah karya L K Ara, musibah tidak hanya digambarkan sebagai kehancuran. Ia juga dipandang sebagai saat manusia kembali mengingat Tuhan.
Gambaran pada sampul buku memperlihatkan seorang lelaki yang duduk di antara puing-puing bangunan. Api masih menyala. Langit gelap oleh badai. Mobil hancur di sisi jalan.
Namun lelaki itu tidak berlari.
Ia duduk dengan kedua tangan terangkat.
Seperti seseorang yang mengerti bahwa di tengah kehancuran sekalipun masih ada satu hal yang tidak runtuh: doa.
Inilah cara penyair melihat musibah.
Musibah memang merobohkan rumah,
tetapi sering kali justru membangunkan kesadaran manusia.
Di saat seperti itu, manusia kembali mengingat sesuatu yang sering dilupakan ketika hidup berjalan normal: bahwa segala yang dimiliki sebenarnya rapuh.
Harta bisa hilang.
Bangunan bisa runtuh.
Kota bisa terbakar.
Tetapi manusia masih memiliki satu tempat untuk berdiri: Tuhan.
Puisi dalam buku ini seperti zikir yang pelan.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak marah kepada dunia.
Ia hanya mengajak pembaca berhenti sejenak,
menatap puing-puing kehidupan,
lalu menyadari bahwa di tengah musibah selalu ada ruang untuk berdoa.
Di sinilah peran penyair menjadi penting.
Berita mencatat tanggal.
Sejarah mencatat peristiwa.
Tetapi puisi mencatat jiwa manusia.
Penyair mengingatkan bahwa di balik setiap bencana selalu ada cerita manusia: seorang ibu yang kehilangan rumah, seorang anak yang mencari keluarganya, seorang lelaki yang hanya bisa duduk di tengah reruntuhan dan mengangkat tangan kepada langit.
Cerita-cerita kecil seperti itulah yang sering hilang dari laporan resmi.
Penyair menyelamatkannya.
Ia menulis agar dunia tidak lupa bahwa musibah bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga peristiwa kemanusiaan.
Karena itu penyair sering disebut sebagai penjaga ingatan.
Ia menyimpan luka zaman dalam puisi, agar suatu hari nanti manusia bisa membaca kembali dan belajar darinya.
Tanpa penyair, musibah mungkin hanya menjadi angka di arsip negara.
Dengan penyair, musibah berubah menjadi kesaksian jiwa manusia.
Kesaksian bahwa manusia pernah jatuh, pernah kehilangan, pernah menangis—dan di tengah semua itu masih mampu mengucapkan zikir.
Selama zikir itu masih ada, harapan belum sepenuhnya runtuh.
Dan selama penyair masih menulis, dunia masih memiliki seseorang yang bersedia mencatat air mata manusia dengan bahasa yang paling sunyi: puisi.
L K Ara










