Breaking News
UMUM  

Ketika Anak Bertanya: “Ine, Kapan Aku Beli Baju Lebaran?”

Airmata kesedihan. Foto: net

Bisa tak kita bayangkan perasaan seorang ibu ketika anaknya pulang bermain lalu bertanya dengan polos,
“Ine, kapan aku beli baju lebaran? Orang tu sudah beli baju, sepatu, jam tangan untuk lebaran. Aku kapan Ine? Kitapun buatkan kue kek mamaknya itu Ine ya.”

Pertanyaan sederhana itu seperti pisau yang pelan-pelan mengiris hati.

Ine—sebutan ibu dalam bahasa Gayo—hanya bisa terdiam. Tak ada jawaban. Yang ada hanya air mata yang tiba-tiba jatuh ke pipi. Bukan karena ia tak ingin membelikan baju lebaran untuk anaknya. Bukan pula karena ia tak ingin membuat kue seperti tetangganya.

Tetapi karena ia tak punya uang.

Padahal Ine adalah seorang guru. Ia baru saja dilantik sebagai PPPK Paruh Waktu di salah satu sekolah di Aceh Tengah. Namun hingga hari ini, hak yang menjadi tumpuan hidupnya belum juga ia terima.

Gaji honorer mereka dari Oktober hingga Desember 2025 belum dibayarkan oleh Pemerintah Daerah.
Sementara sejak dilantik menjadi PPPK Paruh Waktu pada Januari 2026, hingga memasuki Maret 2026, gaji itu juga belum kunjung mereka terima.

Bagi sebagian orang mungkin angka gaji itu tidak seberapa. Namun bagi para guru honorer dan PPPK Paruh Waktu ini, itulah satu-satunya harapan untuk menyambung hidup. Dari situlah mereka membeli beras, membayar kebutuhan rumah tangga, dan sesekali ingin membuat anaknya merasakan kebahagiaan kecil saat Lebaran tiba.

Sekarang, ketika rumah-rumah tetangga mulai dipenuhi aroma kue lebaran, ketika anak-anak lain sudah menyiapkan baju baru, sebagian guru justru harus menahan rasa sedih karena belum bisa memenuhi harapan anaknya sendiri.

“Kalau gaji itu dibayarkan, paling tidak kami bisa membeli baju baru untuk anak-anak,” kata Ine lirih.

Lebaran tinggal menghitung hari.
Harapan mereka sederhana: hak mereka dibayarkan.

Agar ketika anak kembali bertanya,
“Ine, kapan aku beli baju lebaran?”

Seorang ibu tidak lagi hanya bisa menjawabnya dengan air mata.