Breaking News
OPINI  

Urang Té dan Asabiyyah: Membaca Masyarakat Gayo dengan Kacamata Ibnu Khaldun

Kerawang Gayo. Foto: Jufgayo|dreamtime.com

KenNews.id – Pemikiran Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya Muqaddimah tentang siklus kekuasaan dan konsep asabiyyah (solidaritas kelompok) sebenarnya sangat relevan untuk memahami dinamika masyarakat suku, termasuk masyarakat Gayo di Sumatera.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak lahir semata dari kekayaan atau kekuasaan, tetapi dari asabiyyah—rasa solidaritas yang kuat di antara anggota kelompok. Solidaritas ini biasanya paling kuat dalam masyarakat yang memiliki ikatan darah, sejarah, dan adat yang sama.

Jika konsep ini diterjemahkan dalam konteks Gayo, ada satu istilah lokal yang sangat dekat dengan makna asabiyyah, yaitu “Urang Té.”

Urang Té: Solidaritas Sosial Masyarakat Gayo

Dalam bahasa Gayo, Urang Té berarti orang kita atau awak kita. Namun secara sosial maknanya jauh lebih dalam. Ia adalah penanda kedekatan, kepercayaan, dan rasa senasib dalam satu komunitas.

Ketika seseorang disebut Urang Té, itu berarti ia berada dalam lingkar kebersamaan: orang yang dianggap bagian dari kelompok sendiri, orang yang layak dipercaya, dan orang yang secara moral harus dibela atau dibantu.

Dalam kehidupan masyarakat Gayo, konsep ini terlihat dalam banyak praktik sosial: musyawarah kampung, gotong royong, serta kepatuhan terhadap nilai adat dan struktur sosial seperti sarak opat. Solidaritas seperti ini membuat komunitas mampu bertahan dalam berbagai kondisi, bahkan di wilayah pegunungan yang secara geografis tidak mudah.

Dalam bahasa Ibnu Khaldun, inilah yang disebut asabiyyah dalam bentuk paling alami.

Siklus Kepemimpinan dalam Komunitas

Ibnu Khaldun juga menjelaskan bahwa setiap komunitas mengalami siklus kekuasaan: lahir, berkembang, mencapai puncak, lalu perlahan melemah.

Pola ini tidak hanya berlaku pada kerajaan atau negara besar, tetapi juga dapat terjadi dalam komunitas yang lebih kecil, termasuk masyarakat suku.

Pada tahap awal biasanya muncul pemimpin yang dihormati karena ketokohan, keberanian, dan kedekatannya dengan masyarakat. Ia mempersatukan kelompok-kelompok kecil dengan kekuatan solidaritas yang kuat.

Namun ketika kekuasaan menjadi mapan, sering muncul persoalan baru: perebutan pengaruh, kepentingan kelompok, dan konflik internal. Pada titik ini, solidaritas yang dulu kuat perlahan melemah.

Ketika semangat kebersamaan digantikan oleh kepentingan pribadi, maka asabiyyah mulai memudar.

Urang Té dalam Politik Modern

Dalam masyarakat modern, konsep Urang Té masih sangat hidup. Ia bahkan sering muncul dalam dinamika politik lokal.

Dukungan kepada seseorang kadang diberikan bukan hanya karena kapasitas atau gagasan, tetapi karena ia dianggap bagian dari orang kita. Solidaritas ini bisa menjadi kekuatan sosial yang besar dalam membangun kebersamaan.

Namun di sisi lain, jika tidak dijaga, konsep ini juga bisa berubah menjadi solidaritas yang eksklusif. Dukungan diberikan bukan karena kualitas, tetapi karena kedekatan kelompok.

Fenomena ini sebenarnya sangat mirip dengan yang dijelaskan Ibnu Khaldun: solidaritas kelompok sering menjadi energi utama dalam perebutan kekuasaan.

Ketika Solidaritas Melemah

Ibnu Khaldun juga mengingatkan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak runtuh karena serangan dari luar, tetapi karena melemahnya solidaritas dari dalam.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam masyarakat Gayo. Ketika makna Urang Té menyempit hanya menjadi lingkar kepentingan kecil, ketika solidaritas adat tergantikan oleh kepentingan pribadi atau politik sesaat, maka kekuatan sosial masyarakat perlahan akan melemah.

Padahal dalam sejarahnya, masyarakat Gayo mampu bertahan justru karena kekuatan kebersamaan.

Penutup

Lebih dari enam abad lalu, Ibnu Khaldun telah menjelaskan bahwa kekuasaan selalu lahir dari solidaritas sosial. Tanpa solidaritas, sebuah komunitas akan kehilangan fondasi utamanya.

Dalam masyarakat Gayo, nilai itu sebenarnya sudah lama hidup dalam konsep Urang Té.

Sebuah pengingat bahwa kekuatan masyarakat tidak terletak pada siapa yang berkuasa, tetapi pada seberapa kuat rasa kebersamaan di antara mereka.

Karena pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak runtuh karena kekurangan pemimpin.

Ia runtuh ketika makna “orang kita” mulai hilang.