KenNews.id – Bagi generasi tua di tanah Gayo, kata “bang” dulu bukan sekadar bunyi yang keluar dari menara masjid atau mersah. Ia adalah penanda waktu, penanda kehidupan. Orang kampung sering berkata, “nge bang soboh”, “nampin bang magreb mulo”, atau “nge bang entah mi kite ku mersah.”
Hari ini istilah itu hampir tidak terdengar lagi. Yang lebih sering kita dengar adalah kata “adzan.” Sebuah istilah yang jelas berasal dari bahasa Arab dan diajarkan secara formal dalam pendidikan agama.
Namun menariknya, kata “bang” yang dulu akrab di telinga orang Gayo ternyata bukan berasal dari bahasa Gayo. Kata itu merupakan serapan dari bahasa Persia, yaitu “bāng”, yang berarti seruan atau panggilan keras. Dalam tradisi Islam di wilayah Asia, kata tersebut digunakan untuk merujuk pada panggilan shalat.
Bagaimana kata dari Persia bisa sampai ke dataran tinggi Gayo?
Jawabannya terletak pada sejarah panjang masuknya Islam ke Aceh yang kemudian menyebar ke Nusantara. Pada masa awal penyebaran Islam, jalur dakwah tidak hanya datang dari Jazirah Arab. Banyak pedagang dan ulama dari wilayah Persia, Gujarat, dan Asia Tengah yang ikut membawa ajaran Islam ke pelabuhan-pelabuhan di Sumatra.
Bahasa Melayu yang menjadi bahasa perdagangan saat itu menjadi perantara penyebaran berbagai istilah keagamaan. Dari bahasa Melayu inilah banyak kata kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah pedalaman seperti tanah Gayo.
Dalam Melayu lama dikenal istilah “berbang”, yang berarti mengumandangkan panggilan shalat. Karena itu orang-orang dahulu menyebutnya bang subuh, bang zuhur, bang magrib.
Seiring waktu, perubahan terjadi. Pendidikan Islam yang semakin formal membawa masyarakat kembali menggunakan istilah Arab yang lebih baku. Kata adzan kemudian menggantikan kata bang dalam penggunaan sehari-hari.
Perubahan ini tentu bukan sesuatu yang salah. Bahasa memang selalu bergerak mengikuti zaman. Namun di balik perubahan itu, ada satu hal yang menarik untuk disadari: tradisi Islam di Nusantara, termasuk di tanah Gayo, terbentuk dari pertemuan berbagai peradaban.
Ada jejak Arab, ada jejak Melayu, bahkan ada jejak Persia yang tersimpan diam-diam dalam kata-kata yang pernah kita gunakan.
Kata “bang” yang dulu diucapkan oleh orang tua kita mungkin kini mulai hilang dari percakapan sehari-hari. Tetapi ia menyimpan sebuah cerita penting: bahwa Islam di tanah Gayo tidak datang dalam ruang kosong. Ia datang melalui perjalanan panjang sejarah, perdagangan, dan perjumpaan budaya.
Dan kadang-kadang, sejarah itu tersimpan dalam satu kata sederhana yang hampir kita lupakan.


