Breaking News
OPINI  

Puasa; “Ibadah Super Silent”

Marsono, S.Pdi, Kepala SMA Negeri 2 Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Aceh Dan Ketua DPD Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia Kabupaten Bener Meriah

Oleh: Marsono, S.Pd.I *

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya”. (Al-Zalzalah 7-8)

Judul di atas diambil dari sebuah hadits kudsi yang berkaitan dengan keutamaan ibadah puasa. Ash shaumu ly wa ana azzy bih. Artinya Allah berfirman; Puasa adalah untukKu dan Aku yang akan membalasnya.

Jika kita mencermati di zaman sekarang, zaman dimana media sosial (Medsos) hampir menjadi kebutuhan pokok kita (primer) dalam menunjang berbagai aktifitas dan profesi kita masing-masing, dan pengguna medsos ini terus menunjukkan grafik yang significant. Penggunanya baik laki-laki, perempuan, tua, muda bahkan anak-anak dibawah umur sekalipun sering kita melihat menggunakan medsos.

Sehingga kalau kita kaitkan penggunaan medsos ini dengan kegiatan peribadahan kaum muslimin baik berbentuk pribadi  atau sendiri-sendiri (infiradi) maupun berbentuk jama’ah (ijtima’i)   terkadang hampir semua lini per buatan baik berupa ibadah pertikal (Hablum minallah) dan Ibadah horizontal (Hamblum minannas) hampir tidak terelakkan dari liputan medsos baik melalui whatsapp, facebook, instagram, telegram, twitter, TikTok dan lain-lain.

Peliputan, dokumentasi dan mempublikasinya pun bermacam cara di lakukan, baik oleh wartawan atau pers, teman, anak, isteri bahkan kita sendiri yang meliputnya atau mengabadikannya berupa video, foto, tulisan, rekaman dan sebagainya.
Mari kita cermati satu persatu:

1. Ibadah sholat berjamaah ataupun sholat tarawih umpamanya, ini mudah, bisa dan biasa bahkan terkadang sering kita abadikan atau dokumentasikan dalam bentuk foto atau video baik untuk kita koleksi, kita share ataupun kita jadikan sebagai status di medsos kita, sehingga teman atau khalayak ramai (publik) dapat mengetahui kalau kita sedang atau sudah menunaikan ibadah sholat jama’ah, tarawih berjama’ah, sholat jum’at, menjadi khatib, penceramah di masjid indah di kota pulan, dikota kota pulin, dalam keadaan begini dan begitu, dan seterusnya.

2. Ibadah zakat, infak dan sadaqh ini juga dengan mudahnya dan sering di dokumentasikan dan dipublikasikan untuk dishare ke teman bahkan ke publik melalui medsos tersebut oleh siapa saja dan untuk tujuan apa saja.

3. Ibadah Haji dan Umroh, ini juga suatu moment ibadah yang sulit kita hindari dari share – mengeshare atau update status karena memang ibadah ini ibadah “spesial” yakni mengunjungi dua kota suci yaitu Makkah dan Madinah sehingga hampir semua kita “tergiur” untuk memdokumentasikan dan mempublikasikannya melalui medsos keteman, saudara dan juga publik.

4. Demikan juga halnya dengan ibadah-ibadah lain berupa atau kebaikan-kebaikan yang bersifat sosial lainnya tidak luput dari dokumentasi dan publikasi yang bisa dilihat dan diketahui oleh khalayak ramai (publik) yang mana kesemua perbuatan baik atau ibadah tersebut sulit dihindari dari “tercampur” atara riya dan ikhlas walaupun kita memaknainya sebagai suatu syi’ar dan ini diterima secara syari’at, Namun secara hakikat wallahu a’lam bis-shoawab) dan kita kembalikan kepada hati kita masing-masing.

Nah, berbeda halnya dengan ibadah puasa, (ibadah Super Sir and Silent) sulit bagi kita, jarang sekali bahkan tidak pernah kita menunjukkan kepada orang lain kalau kita sedang berpuasa apalagi men share atau meng Update foto atau video yang menunjukkan kita sedang berpuasa. Mengapa demikian, karena memang ibadah puasa itu merupakan ibadah paling sir atau silent, bisa saja orang berpura-pura puasa ternyata dia tidak puasa dan bisa saja orang menampakkan pura-pura tidak puasa padahal ia puasa  karena memang puasa itu kita dan Allah saja yang mengetahuinya sedangkan orang sekeliling kita bahkan orang terdekat sekalipun tidak bisa memastikan apakah kita puasa atau tidak, hanya saja yang bisa dan biasa kita dokumentasikan dan publikasikan dan kita share kepublik adalah kegitan makan sahurnya dan berbka puasanya.
Sekali lagi Ibadah puasa dalah ibadah super sir dan silent (sunyi, senyap, tidak tampak jauh dari riya)

Selanjutnya kita kembali ke hadits di atas, dari hadits tersebut di atas timbul pertanyaan; bukankah setiap ibadah yang dikerjakan hanya semata-mata untuk Allah dan mengharap ridhanya, maka Allah pula yang akan memberikan balasan di akhirat kelak.

Untuk memahami maksud dari hadits qudsi di atas, akan dikemukakan pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani, di dalam Fathul Baari, bahwa penyebutan “puasa adalah untukKu dan Aku yang akan membalasnya”, sebagai sebuah penghormatan kepada orang yang melaksanakannya.

Ada 3 makna yang dapat dipahami dari hadits di atas;

1. Dalam ibadah puasa tidak ada unsur riya. Puasa merupakan ibadah rahasia yang pelaksanaannya tidak nampak oleh manusia, bahkan puasa merupakan ibadah yang hanya ada di dalam hati. Hal ini sesuai dengan sabda nabi (La riyaa fi al-shaum). Tidak ada riya dalam puasa. Tidak adanya unsur riya di dalam puasa, juga dikarenakan ibadah itu tidak akan ada jika tidak diwujudkan dalam perbuatan. Karena itu hanya Allah Swt dan orang yang berpuasa sendiri yang mengetahuinya. Saking rahasianya ibadah puasa, maka akan sulit membedakan antara yang berpuasa dengan yang berpura-pura puasa, Secara lahir tidak ada tanda-tanda bagi orang yang puasa, karena tidak ada gerakan atau bacaan sebagaimana lazimnya dalam pelaksanaan ibadah lain seperti shalat dan haji yang dapat dilihat pada gerakan atau bacaan. Puasa adalah ibadah yang di dalamnya ada niat dan menahan makan dan minum serta menahan dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai tenggelam mata hari. Kondisi seperti itu, membuat pelakunya lebih ikhlas dan hanya mengharapkan ridha dari Allah semata, sehingga unsur riya yang menyebabkan hilangnya pahala ibadah dapat dihindari.

2. Allah memberikan pahala puasa tanpa ada batasnya. Dalam menyebutkan nilai pahala yang akan diberikan kepada hambaNya, Allah sering menyebutkan berupa nominal seperti sepuluh kali lipat (Q.S.6:160), tujuh ratus ganda (Q.S.:2:261), bahkan dengan ganjaran yang tak terhitung banyaknya (Q.S.39:10). Namun terhadap ibadah puasa, Allah hanya menyebutkan dengan kalimat tak terhingga. Ini sebuah penghormatan Allah terhadap Ash-Shaaim (orang yang berpuasa). Karena selama berpuasa berarti ia berusaha sabar untuk tidak memakan makanan meskipun halal, lebih-lebih lagi yang diharamkan. Bersabar untuk tidak berkumpul dengan istri/suami di siang hari, bersabar untuk melatih anggota tubuhnya, seperti lidah, tangan dan kakinya serta seluruh anggota lainnya untuk tidak melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain atau melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Karena itu bulan ramadhan adalah bulan shabar dan shabar balasannya adalah surga. Dalam ayat lain dijelaskan sesungguhnya kesabaran (puasa) itu balasannya tanpa ada batasnya. Menunjukkan betapa besarnya pahala puasa hanya Allah yang mengetahui.

3. Penghormatan yang luar biasa diberikan Allah kepada orang yang berpuasa. Allah meyakinkan kepada orang-orang yang beriman bahwa kewajiban puasa yang dibebankan kepada mereka adalah sebuah penghargaan. Hal ini dapat dipahami dari hadits yang menjadi pembahasan dalam uraian ini, “puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalas” Imam Al-Asqalani menganalogkan ibadah puasa yang dibalas oleh Allah dengan pemberian sebuah hadiah oleh seorang raja kepada rakyatnya. Seperti raja bertitah siapa yang dapat melaksanakan suatu pekerjaan tertentu, maka akan diberi hadiah dan hadiah itu akan saya serahkan sendiri secara langsung. Penyerahan hadiah oleh orang-orang terhormat tanpa mewakilkannya, mempunyai nilai positif bagi penerimanya. Ia merasa mendapatkan penghormatan yang luar biasa, dapat bertemu dengan orang yang terhormat, yang belum tentu dapat dirasakannya oleh semua orang, hanya orang-orang tertentu saja yang mendapat kesempatan tersebut. Artinya tidak semua orang mendapat kesempatan mulia itu. Inilah suatu perasaan bahagia menyelimuti dirinya. Lebih-lebih lagi jika penghormatan itu datangnya dari Allah Swt. Analogi ini meskipun tidak pantas, karena membandingkan Allah dengan yang lain, namun analogi tersebut hanya sebagai sebuah upaya untuk memudahkan memahami maksud hadits tersebut. Puasa adalah untukKu dan Aku yang akan membalasnya.

Wallahu A’lam bish-shawab, semoga bermanfaat.
*Penulis adalah: Kepala SMA Negeri 2 Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Aceh
Dan Ketua DPD Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia Kabupaten Bener Meriah