TAKENGON | KenNews.id – Lebih dari tiga bulan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Aceh Tengah pada 26 November 2025 lalu, hak masyarakat yang dijanjikan pemerintah pusat belum juga terwujud.
Jangankan hunian tetap (huntap) atau hunian sementara (huntara), Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga (KK) yang dijanjikan untuk membantu warga terdampak pun belum menunjukkan tanda-tanda pencairan.
“Dana itu mungkin kecil bagi pejabat penyalur, tetapi bagi kami sangat besar, apalagi sekarang ini bulan puasa dan menjelang hari raya,” ujar Aman Wen, warga Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah, kepada KenNews.id, Minggu, 1 Maret 2026
Menurut Aman Wen, dana tersebut sudah dijanjikan kepada masyarakat terdampak. Ia dan keluarganya sempat menaruh harapan besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar selama Ramadan dan persiapan Idulfitri. Namun hingga kini, harapan itu belum berbuah kenyataan.
“Sudah dijanjikan, kami sudah berharap. Tapi sampai hari ini hanya kekecewaan yang kami rasakan,” tambahnya dengan nada getir.
Kondisi serupa juga terjadi di Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge. Hingga awal Maret 2026, warga mengaku belum menerima DTH yang dijanjikan. Ironisnya, sebagian masyarakat di sana bahkan telah berinisiatif membangun kembali rumah mereka secara swadaya, dengan mengandalkan gotong royong dan bantuan dari relawan
Keterlambatan pencairan DTH ini menambah panjang daftar persoalan penanganan pascabencana di Aceh Tengah. Selain belum adanya kepastian hunian tetap maupun hunian sementara, warga kini harus menghadapi tekanan ekonomi di tengah situasi pemulihan yang belum sepenuhnya pulih.
Masyarakat berharap pemerintah pusat maupun daerah segera memberikan kepastian dan transparansi terkait pencairan Dana Tunggu Hunian tersebut. Bagi korban bencana, bantuan Rp600 ribu per KK bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan penopang hidup di masa sulit.
Di tengah suasana Ramadan yang seharusnya membawa ketenangan dan harapan, sebagian warga terdampak bencana di Aceh Tengah justru masih bergulat dengan ketidakpastian. Mereka menanti bukan sekadar janji, tetapi realisasi.











