TAKENGON | KenNews.id – Jangan kaget kalau suatu malam, selepas tarawih, sebelum tidur atau di warung kopi pada siang hari di luar bulan puasa, seorang lelaki dewasa yang kerap bicara politik, kopi Gayo, dan harga pupuk, diam-diam menggulir layar ponselnya—lalu berhenti di satu tontonan: drama China pendek.
Durasi dua menit. Judulnya bombastis. Isinya? Reinkarnasi, CEO menyamar, istri dizalimi, balas dendam dalam 30 episode mikro.
Receh? Iya.
Disukai? Juga iya.
Dan yang nonton bukan cuma remaja galau. Banyak lelaki dewasa ikut kecanduan.
Fast Food untuk Otak Lelah
Drama micro atau short drama asal China ini beredar masif di TikTok, Reels, hingga aplikasi khusus. Formatnya pendek, cepat, penuh konflik. Tidak ada adegan basa-basi. Dalam 60 detik pertama, tokoh utama sudah dihina mertua, ditampar, lalu—plot twist—ternyata pewaris konglomerat.
Bagi lelaki dewasa yang seharian dihajar realitas—target kerja, cicilan, tekanan sosial—tontonan seperti ini adalah “mie instan emosional.” Cepat matang, cepat kenyang.
Tak perlu mikir subplot. Tak perlu hafal 15 karakter. Cukup duduk, gulir, dan nikmati saat si jahat ditampar balik oleh takdir.
Balas Dendam yang Terasa Adil
Tema favoritnya hampir selalu sama: dizalimi, diremehkan, dikhianati. Lalu bangkit. Kadang lewat reinkarnasi. Kadang pura-pura miskin. Kadang CEO menyamar jadi sopir.
Skemanya sederhana. Tapi justru di situ letak kenikmatannya.
Lelaki dewasa mungkin tak akan mengaku, tapi dalam diam ia menyimpan banyak “ganjalan” hidup: atasan yang semena-mena, relasi yang tak adil, usaha yang diremehkan.
Saat tokoh utama berkata dengan tenang, “Sekarang giliranmu,” ada kepuasan psikologis yang sulit dijelaskan. Sejenis keadilan puitis yang di dunia nyata sering tak pernah datang.
Hiburan Tanpa Beban Moral
Film berat butuh energi. Politik bikin pusing. Berita kadang bikin darah naik.
Drama China pendek menawarkan satu hal: pelarian tanpa rasa bersalah.
Ceritanya klise? Ya.
Logikanya bolong? Sering.
Terlalu lebay? Hampir selalu.
Tapi justru karena itu, ia jadi aman. Penonton tidak dituntut cerdas. Tidak dipaksa menganalisis. Cukup menikmati.
Ini hiburan “mindless” yang menyelamatkan kewarasan.
Dirancang untuk Bikin Ketagihan
Produser drama pendek ini paham betul psikologi penonton. Setiap episode diakhiri cliffhanger kecil. Musik dramatis muncul tiba-tiba. Kamera zoom ke ekspresi wajah.
Detik demi detik dihitung untuk memicu dopamin.
Satu episode lewat.
Lalu satu lagi.
Lalu tiba-tiba 40 episode habis.
Total durasi mungkin cuma satu setengah jam. Tapi sensasinya seperti maraton panjang yang memuaskan.
Fantasi yang Tak Perlu Masuk Akal
Ada sub-genre yang paling digemari lelaki dewasa: CEO menyamar.
Tokoh kaya raya berpakaian sederhana. Diremehkan keluarga calon istri. Dihina di depan umum. Lalu identitasnya terbuka—lengkap dengan mobil mewah dan asisten yang berbaris hormat.
Ini fantasi klasik tentang harga diri dan pengakuan. Tentang “lihat nanti siapa saya sebenarnya.”
Di dunia nyata, tak semua orang dapat momen dramatis seperti itu. Di layar dua menit, semua bisa terjadi.
Guilty Pleasure yang Tak Diakui
Banyak yang menonton sambil tertawa, “Ah, ini mah alur sampah.”
Tapi tetap lanjut episode berikutnya.
Itulah guilty pleasure. Dosa kecil yang tidak berbahaya.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu serius, sedikit drama receh adalah bentuk perlawanan paling sederhana terhadap stres.
Antara Receh dan Realitas
Kita boleh menyebutnya tontonan murahan. Tapi fenomena ini menunjukkan satu hal: manusia butuh cerita sederhana tentang keadilan, kemenangan, dan pengakuan.
Di tengah hidup yang tak selalu adil, kadang yang kita butuhkan bukan film festival dengan pesan filsafat mendalam.
Cukup dua menit.
Orang jahat kalah.
Si miskin ternyata pewaris kerajaan bisnis.
Dan lelaki dewasa itu pun menutup ponselnya dengan satu perasaan kecil: puas.

