JAKARTA – Kabar segar bagi petani dan eksportir Kopi Gayo dan Indonesia. Pemerintah memastikan sebanyak 173 pos tarif (HS Code) yang mencakup 53 kelompok komoditas pertanian dan turunannya resmi dibebaskan dari bea masuk menjadi 0 persen di pasar Amerika Serikat. Kebijakan ini merupakan bagian dari skema dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut capaian tersebut sebagai hasil negosiasi strategis.
“Produk pertanian kita bisa masuk pasar global dengan akses yang lebih adil dan kompetitif,” ujar Amran dalam keterangannya, Minggu, 22 Februari 2026)
Kopi hingga Rempah Strategis
Salah satu komoditas unggulan yang menikmati tarif nol persen adalah kopi, dengan enam pos tarif berbeda. Selain kopi, fasilitas ini juga mencakup teh hijau dan teh hitam.
Tak hanya itu, buah-buahan tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya turut masuk daftar bebas bea masuk. Aneka rempah strategis—lada, pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, dan kunyit—juga mendapat perlakuan serupa.
Komoditas lainnya meliputi kakao dan produk turunannya, minyak sawit, palm kernel oil, serta buah dan inti kelapa sawit. Produk olahan buah, tepung dan pati berbasis singkong dan sagu, hingga pupuk mineral berbasis kalium juga ikut dibebaskan dari tarif masuk.
Peluang Besar, Tantangan Mutu
Menurut Amran, pembebasan tarif ini akan meningkatkan daya saing produk Indonesia secara signifikan karena harga menjadi lebih kompetitif di pasar AS yang bernilai sangat besar.
“Dengan tarif nol persen, produk kita punya ruang bersaing yang lebih besar. Ini peluang bagus untuk meningkatkan ekspor dan membuka pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha,” tambahnya.
Namun demikian, ia menegaskan pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan kualitas, standar keamanan pangan, serta kesinambungan pasokan terpenuhi.
“Kesempatan sudah ada di depan mata. Tinggal kita pastikan produksinya cukup dan mutunya terjaga, supaya petani bisa benar-benar merasakan manfaatnya,” tegas Amran.
Kebijakan ini dinilai menjadi momentum penting bagi sektor pertanian nasional untuk naik kelas, dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok global.


