TAKENGON – Kemarin Malam, Minggu 22 Februari 2026, udara di Blang Kolak menggigit pelan. Usai tarawih, saya melipir ke Cafe Intuisi (ex WRB). Tujuannya sederhana: secangkir kopi hitam, pekat dan jujur, seperti orang Gayo menyukai percakapan.
Di meja dekat pintu masuk, beberapa lelaki duduk melingkar. Sebagian saya kenal. Tawa mereka pecah, bukan tawa tipis basa-basi, tapi tawa yang meledak karena satu kalimat yang terasa sangat “kampung”.
Salah seorang dari mereka berkata lantang,
“M a waktu orom aku, jangut ni iyong e pe nge mu rah-rah!”
Kerumunan langsung terbahak.
Kalimat Gayo itu kira-kira berarti: “Dulu waktu masih sama kami, “M” Itu bulu hidungnya saja tak terurus.”
Nama yang disebut, “M”, dulu adalah kawan ngopi mereka. Sekarang ia sudah duduk di sebuah institusi daerah. Jabatan datang, kursi empuk tersedia, pintu kantor mungkin kini dijaga ajudan. Tapi di meja kopi WRB Blang Kolak, ia tetap M yang lama.
Di sanalah saya menangkap pesan yang lebih dalam dari sekadar ejekan ringan.
Orang Gayo punya cara khas mengingatkan: bukan dengan marah, bukan dengan makian, tapi dengan humor yang tajam. “Jangut ni iyong mu murah rah” bukan soal bulu hidung. Itu simbol. Simbol bahwa kita semua berasal dari titik yang sama—dari gelas kopi yang sama, dari meja kayu yang sama, dari malam-malam panjang tanpa protokol.
Pesannya jelas:
Jangan sombong.
Karena jabatan bisa berubah setiap lima tahun. Tapi cerita lama di meja kopi tak pernah pensiun.
Di kampung ini, orang tak silau pada pangkat. Mereka lebih percaya pada ingatan. Mereka ingat siapa yang dulu duduk paling pojok karena tak punya uang lebih. Siapa yang dulu minta tambah gula. Siapa yang dulu meminjam korek api. Dan siapa yang sekarang berjalan sedikit lebih tegak karena merasa dunia berubah sejak namanya dipanggil dengan embel-embel jabatan.
Padahal, di mata kawan lama, engkau tetap sama.
Takengon mungkin kecil, tapi memorinya panjang. Di kota ini, kesetiaan diukur bukan dari mobil dinas, melainkan dari apakah kau masih mau duduk dan tertawa bersama tanpa jarak.
Mungkin M tak pernah mendengar langsung kalimat itu malam tadi. Tapi jika sampai ke telinganya, semoga ia paham: itu bukan kebencian. Itu rindu. Rindu pada kawan yang dulu sederhana.
Karena sehebat apa pun kursimu hari ini, di meja kopi Blang Kolak, kau tetap kawan.
Dan kawan tak butuh protokol.










