Oleh: Tazkir, S.Pd,M.Pd
Aceh memang beda dengan Provinsi lainnya, Bulan suci Ramadan kembali menyulam suasana religius yang kental di seantero bumi Aceh. Bagaikan rindu selalu datang tepat waktu, tradisi menutup warung dan kafe sejak pagi hingga rampungnya salat tarawih kembali dijalankan dengan tertib dan penuh kesadaran oleh segenap lapisan masyarakat.
Sejak hari pertama Ramadan, kota dan desa di seluruh penjuru Aceh mengenakan keheningan seperti selendang yang melindungi kekhusyukan. Deretan warung makan, kedai kopi, dan kafe biasanya riuh oleh hiruk-pikuk warga, kini tutup rapat membisu. Pintu-pintu tergembok, tirai terkatup rapi sebuah salam hormat tulus kepada umat Islam yang tengah menunaikan ibadah puasa.
Tradisi ini bukan sekadar aturan administratif belaka, melainkan telah menjadi denyut nadi kearifan lokal masyarakat Aceh sejak dari zaman ke zaman. Sebagai daerah dijuluki Serambi Mekah, nilai-nilai syariat Islam adalah kompas kehidupan sosial yang tak pernah kehilangan arahnya.
Penutupan tempat usaha makanan dan minuman pada siang hari merupakan perwujudan nyata dari sikap menjaga kekhusyukan dan memuliakan mereka yang berpuasa.
Ketika sore mulai mengetuk pintu, suasana perlahan berubah rona. Menjelang waktu berbuka puasa, para pedagang beranjak mempersiapkan sajian takjil mereka. Namun, warung dan kafe tetap menahan diri untuk melayani makan di tempat hingga waktu berbuka benar-benar tiba. Setelah azan Magrib mengalun membelah langit dan masyarakat merampungkan salat Isya serta tarawih, barulah beberapa tempat usaha kembali membuka pintunya secara terbatas bagai bunga yang mekar hanya pada waktunya.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait turut melakukan pengawasan secara persuasif demi memastikan tradisi ini berjalan sebagaimana mestinya. Pendekatan yang ditempuh lebih mengedepankan pembinaan dan imbauan, agar seluruh lapisan masyarakat senantiasa menjaga ketertiban selama bulan suci berlangsung.
Suasana Ramadan di Aceh pun terasa seperti dunia mengenakan pakaian berbeda lebih tenang, lebih dalam, lebih bermakna. Siang hari menjadi waktu bekerja dengan lebih khidmat, memperbanyak ibadah, serta menikmati lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Sementara malam hari menjelma menjadi panggung silaturahmi berbuka bersama keluarga dan memadati masjid demi meramaikan salat tarawih.
Tradisi menutup warung dan kafe ini tidak hanya mencerminkan kepatuhan terhadap aturan daerah, tetapi juga memperlihatkan betapa kokohnya pilar solidaritas sosial masyarakat. Warga non-Muslim yang menetap di Aceh pun umumnya memahami dan menghormati kebiasaan mulia ini, sehingga terciptalah harmoni yang tumbuh dari saling pengertian.
Ramadan di Aceh bukan sekadar rutinitas tahunan yang berulang tanpa makna. Ia adalah momentum memperkuat nilai-nilai spiritual, mempererat kebersamaan, dan menempa kedisiplinan sosial. Ketika pagi hingga sore terasa lebih sunyi dari biasanya, sesungguhnya di balik keheningan itulah tersimpan gambaran masyarakat yang sedang menjaga diri, menata hati, dan memuliakan bulan suci dengan penuh kesadaran.
Tradisi ini adalah cermin bening yang memantulkan wajah Ramadan di Aceh bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang menjaga adab di ruang publik dan merawat kemuliaan bersama. Sebuah kearifan lokal terus hidup, mengalir, dan diwariskan bagaikan sungai tak pernah kering dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(Penulis Guru SMA Negeri 1 Bukit)









