Breaking News
UMUM  

Jeruk Keprok Gayo Pernah Jaya, Kini Tenggelam oleh Popularitas Jeruk Berastagi

Jeruk Keprok Gayo koleksi Wiknyo, Paya Tumpi Aceh Tengah. Foto: KenNews.id

BENER MERIAH | KenNews.id – Tahun 90-an ketika nama Jeruk Keprok Gayo begitu harum di pasar-pasar tradisional hingga kota-kota besar di Aceh dan Sumatra Utara.

Buah berkulit cerah dengan rasa manis segar itu menjadi kebanggaan petani dataran tinggi Gayo. Namun kini, gaungnya memudar, tertutup oleh popularitas Jeruk Berastagi yang lebih dikenal luas di pasaran nasional.

Dahulu, jeruk keprok yang ditanam di kawasan dataran tinggi Gayo ( Desa Paya Tumpi Aceh Tengah) Bener Meriah (Desa Tanjung Pura (Pondok Baru) menjadi komoditas andalan petani. Ketinggian wilayah, suhu sejuk, serta tanah yang subur membuat buah ini memiliki cita rasa khas: perpaduan manis dan sedikit asam yang menyegarkan.

Banyak pedagang bahkan menyebutnya sebagai “primadona dari pegunungan.”

Beberapa tahun terakhir, nama jeruk keprok Gayo semakin jarang terdengar. Di pasar-pasar besar, label yang lebih menonjol justru berasal dari Berastagi, daerah pegunungan di Tanah Karo, Sumatra Utara. Jeruk Berastagi berhasil membangun identitas dagang , didukung distribusi lebih luas serta promosi yang konsisten.

Iyan, Petani Tanjung Pura Pondok Baru, mengatakan kepada KenNewsMinggu, 15 Februari 2006, salah satu penyebab meredupnya jeruk keprok Gayo adalah serangan penyakit tanaman dan menurunnya perawatan kebun akibat harga jual yang tidak stabil. Ketika hasil panen tak lagi menjanjikan, sebagian petani beralih ke komoditas lain seperti kopi Gayo memiliki pasar ekspor lebih jelas.

Selain itu, faktor branding dan pemasaran juga dinilai menjadi persoalan. Jika jeruk Berastagi memiliki citra sudah melekat di benak konsumen, jeruk keprok Gayo belum memiliki perlindungan dan promosi yang kuat secara nasional.

Padahal dari segi kualitas, tak sedikit konsumen mengakui rasa jeruk Gayo tidak kalah bersaing.

Kondisi ini memunculkan keprihatinan berbagai pihak.

Pemerhati pertanian daerah menilai perlu ada upaya revitalisasi kebun jeruk keprok Gayo melalui peremajaan bibit unggul, pelatihan petani, serta strategi pemasaran berbasis identitas lokal. Penguatan merek daerah dinilai menjadi kunci agar produk hortikultura Gayo kembali mendapat tempat di pasar.

“Ini bukan sekadar soal buah, tetapi soal identitas daerah,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan duduk bersama menyusun langkah konkret agar jeruk keprok Gayo tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
Kini, harapan itu masih ada.

Di beberapa kebun, petani muda mulai mencoba menanam kembali jeruk keprok dengan sistem budidaya yang lebih modern. Mereka percaya, dengan manajemen yang baik dan dukungan promosi, jeruk keprok Gayo bisa bangkit kembali dan bersanding sejajar dengan jeruk dari daerah lain.

Jeruk keprok Gayo mungkin pernah redup, tetapi semangat untuk menghidupkannya kembali belum padam. Seperti tanah pegunungan yang setia menumbuhkan kehidupan, harapan pun masih bersemi di dataran tinggi Gayo.

Penulis: Tazkir