Breaking News

74 Hari Pascabencana, Korban Banjir-Longsor di Pantan Nangka Aceh Tengah Bangun Rumah Darurat dari Swadaya

Masyarakat yang juga korban bencana di kampunh Pantan Nangka, Aceh Tengah bahu membahu membangun rumah untuk korban yang paling terdampak dan prioritas. Foto: Dok Eli Sudarman

TAKENGON | KenNews.id – Di tengah ketidakpastian bantuan pemerintah, para korban bencana banjir bandang dan longsor di Dusun Binjai, Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, mengambil langkah berani: membangun rumah layak huni darurat secara swadaya untuk keluarga yang paling terdampak.

Pembangunan hunian darurat itu diprioritaskan bagi empat keluarga yang kondisi rumahnya hanyut total dan tidak lagi memungkinkan ditempati. Di antara penerima bantuan tersebut terdapat keluarga lansia serta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang selama ini hidup dalam kondisi rentan.

“Dana pembangunan rumah ini berasal dari swadaya sesama korban dan relawan kemanusiaan Gercep,” kata tokoh masyarakat Pantan Nangka, Eli Sudarman, kepada KenNews.id, Minggu, 8 Februari 2026.

Menurut Eli, inisiatif tersebut lahir dari rasa kemanusiaan dan solidaritas warga yang sama-sama menjadi korban, setelah berbulan-bulan menunggu kabar bantuan yang tak kunjung jelas.

“Inisiatif ini muncul dari rasa kemanusiaan terhadap sesama korban bencana di kampung kami. Di kampung lain sudah ada pembangunan hunian sementara, sedangkan di sini kabar dibangun saja tidak ada,” ujarnya.

Eli menyebut, hingga saat ini sudah 74 hari sejak bencana terjadi, namun persoalan hunian layak bagi warga yang kehilangan rumah belum juga menunjukkan tanda-tanda akan direalisasikan.

“Sudah 74 hari bencana, persoalan hunian yang layak belum juga terdengar dari pihak terkait, apalagi terealisasi. Sehingga muncul inisiatif dari sesama korban untuk menggalang donasi,” tambahnya.

Warga kemudian membentuk relawan kemanusiaan bernama Relawan Gercep, yang dikoordinatori oleh Kurnia A Manyun, Widarto A Erma, Rahmat, Ngatino, Eli Sudarman, serta beberapa warga lainnya. Mereka berkolaborasi langsung dengan korban untuk membangun rumah layak huni darurat bagi warga yang paling parah terdampak.

“Kami sepakat membangun rumah bagi korban yang paling parah terkena bencana, termasuk lansia yang sampai hari ini sangat risau. Bahkan beberapa sudah jatuh sakit karena merasa diterlantarkan,” kata Eli.

Salah satu rumah yang dibangun, lanjut Eli, adalah rumah milik seorang ODGJ yang tempat tinggalnya hanyut total akibat banjir bandang.

“Rumahnya hanyut total. Ini yang membuat kami merasa tidak bisa menunggu lagi,” ungkapnya.

Hingga saat ini, donasi yang terkumpul dari warga dan donatur disebut telah mendekati Rp20 juta, dan akan digunakan untuk membangun empat unit rumah layak huni.

“Donasi yang terkumpul sampai hari ini sudah mendekati 20 juta. Ini akan kita gunakan untuk membangun 4 rumah,” ujarnya.

Eli mengungkapkan, total rumah warga yang hanyut atau tidak lagi layak dihuni akibat bencana mencapai 12 unit. Namun karena keterbatasan dana, pihaknya terpaksa memprioritaskan korban yang paling rentan terlebih dahulu.

“Total rumah yang tidak lagi layak dihuni atau hanyut total ada 12 rumah. Kita utamakan dulu korban lansia. Kalau memungkinkan, nanti akan kita usahakan sampai 12 unit rumah akan kita bangun,” kata Eli.

Dalam bencana banjir bandang dan longsor tersebut, total korban terdampak di kampung itu disebut mencapai 44 orang.

Kini, di saat pemerintah belum memberi kepastian, para korban bencana justru membuktikan bahwa solidaritas warga mampu menjadi benteng terakhir untuk bertahan hidup—meski seharusnya hal itu bukan beban korban, melainkan tanggung jawab negara.