Breaking News
OPINI  

Inkompetensi: Penyakit Sunyi yang Menggerogoti Aceh Tengah

Rumah warga dan tempat ibadah rusak karena terjangan kayu dan banjir di Kampung Tebuk, Pegasing, Aceh Tengah. Foto: KenNews.id

KenNews.id – Inkompetensi tidak pernah datang dengan suara ledakan. Ia hadir pelan, nyaris sopan, dibungkus jabatan, disamarkan oleh seremoni, dan dilindungi oleh kata “sudah sesuai prosedur”. Tapi justru dari situlah kehancuran dimulai. Bukan dari bencana alam, bukan dari takdir, melainkan dari tangan-tangan yang salah mengelola amanah.

Aceh Tengah hari ini bukan hanya menghadapi persoalan alam, tetapi krisis kepemimpinan teknis. Sungai rusak, hutan terkoyak, layanan publik terseok, pendidikan darurat dibiarkan jadi rutinitas, dan kesehatan warga diperlakukan seperti angka statistik. Semua itu bukan kebetulan. Itu hasil langsung dari inkompetensi yang dibiarkan tumbuh subur.

Ketika banjir bandang dan longsor datang, pejabat berdiri di depan kamera. Ketika air belum surut, plakat dibagikan. Tapi saat warga masih kesulitan air bersih, anak-anak belajar di bawah ancaman rusaknya infrastruktur, dan puskesmas lumpuh tanpa pelayanan layak—negara justru menghilang. Yang hadir hanya pidato, bukan solusi.

Inkompetensi di Aceh Tengah bukan sekadar soal kurangnya kemampuan, tapi kegagalan memahami tanggung jawab. Mereka yang tak mengerti tata kelola lingkungan diberi kuasa atas wilayah rawan bencana. Mereka yang gagap manajemen krisis dipercaya mengurus pendidikan. Hasilnya bisa ditebak: kebijakan tambal sulam, perencanaan asal-asalan, dan rakyat dijadikan korban berulang.

Lebih berbahaya lagi, inkompetensi sering disamarkan sebagai loyalitas. Kritik dianggap ancaman, evaluasi disebut pembangkangan. Padahal yang sebenarnya mengancam Aceh Tengah bukan suara masyarakat sipil, bukan mahasiswa, bukan pers—melainkan pejabat yang tak tahu apa yang ia kerjakan, tapi enggan mundur.

Aceh Tengah sedang membayar mahal harga dari kesalahan memilih dan mempertahankan orang-orang yang tidak cakap. Setiap sungai yang tercemar, setiap jalan yang putus, setiap layanan publik yang lumpuh, adalah bukti bahwa ketidakmampuan dalam jabatan adalah bentuk kekerasan struktural terhadap rakyat.

Jika inkompetensi terus dirawat, maka kerusakan akan diwariskan. Bukan hanya kerusakan alam, tapi rusaknya kepercayaan, hancurnya masa depan, dan lenyapnya harapan. Aceh Tengah tidak kekurangan sumber daya—yang langka justru keberanian untuk berkata jujur: banyak yang berkuasa hari ini tidak layak berada di sana.

Dan selama itu tidak diakui, Aceh Tengah akan terus berjalan mundur, sambil berpura-pura baik-baik saja.