Breaking News
UMUM  

Resam dan Gayo Kultural Lab, Gelar Pendamping Psikosial FPKB di Aceh Tengah dan Bener Meriah

TAKENGON | KenNews.id – Yayasan Resam dan Komunitas Gayo Kultural Lab gelar kegiatan pemulihan Psikososial anak di sejumlah desa terdampak bencana banjir bandang dan Tanah Longsorndi Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Kegiatan dalam rangkaian festival ini menggunakan pendekatan kebudayaan sebagai dasar pemulihan. Anak-anak diajak terlibat dalam aktivitas yang dekat dengan lingkungan dan keseharian, serta identitas budaya mereka, sehingga proses pemulihan berlangsung secara alami, hangat, dan tidak terasa seperti intervensi formal.

‎Direktur Yayasan Resam, Hardiansyah mengungkapkan rangkaian kegiatan psikososial yang dirancang secara partisipatif dengan teknik skenografi festival ini menghadirkan ruang anak-anak untuk kembali bermain, berekspresi, dan membangun rasa percaya diri setelah melewati pengalaman sulit akibat bencana.

‎ “Kami berharap anak-anak dapat beraktivitas di titik-titik bekas bencana sebab visual tersebut akan terus mereka lihat, oleh karena itu rasa takut tersebut perlu untuk dihilangkan melalui aktivitas seni yang menyenangkan”kata Hardiansyah, melalui rilisnya kepada KenNews.id, Rabu 28 Januari 2026

‎Kegiatan psikososial ini didukung oleh Direktorat Bina SDM, Pranata dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI, dan ditemani oleh beberapa komunitas dan posko seperti Posko Rakyat, Posko Kelas Campuran, Posko Titik Tengah, Posko Bener Meriah dan Komunitas ATB, dengan melibatkan fasilitator seni, pendamping anak, serta pegiat budaya lokal.

‎”Berbagai aktivitas disiapkan, mulai dari permainan tradisional, lokakarya kesenian seperti didong, tari, menggambar, mendongeng, aktivitas berbasis gerak dan musik yang membantu anak-anak menyalurkan emosi serta memulihkan rasa aman melalui pendekatan budaya yang akrab dengan lingkungan dan kehidupan mereka”jelas Hardiansyah.

‎Dijelaskan, pendekatan ini dipilih karena budaya, lingkungan alam dan sosial anak merupakan bagian penting dalam proses pemulihan psikologis. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami dampak psikologis akibat bencana. Kehilangan rumah, terpisah dari lingkungan bermain, hingga menyaksikan peristiwa traumatis dapat memicu gangguan emosi, kecemasan, ketakutan berlebih, hingga perubahan perilaku.

‎“Anak-anak membutuhkan ruang yang hangat, menyenangkan, dan terasa dekat dengan keseharian mereka. Di situlah proses pemulihan bisa tumbuh secara alami,”kata Hardiansyah.

‎Festival Panen Kopi Gayo sendiri selama ini dikenal sebagai perayaan budaya masyarakat Gayo yang menampilkan tradisi, seni, serta praktik hidup berbasis kopi. Kali ini, nilai gotong royong tersebut diperluas dengan menghadirkan kepedulian terhadap pemulihan sosial-emosional sebagai bagian dari ketahanan masyarakat pascabencana.

‎Jalan Kebudayaan dan Bangkit dari Bencana

‎Berlangsung sederhana namun semarak dengan latar dampak bencana diantara puing sisa longsor dan banjir bandang, rangkaian kegiatan ini dibuka di desa Pantang Kemuning Kecamatan Timang Gajah Bener Meriah (25 Januari 2025) kemudian dilanjutkan di Desa Uning Mas (26 Januari 2025) Kecamatan Pintu Rime Gayo. Sementara di Kabupaten Aceh Tengah diagendakan digelar di desa Delung Sekinel (31 Januari 2025) dan Reje Payung ( 1 Februari 2025) Kecamatan Linge.

‎Desa-desa ini menjadi titik pelaksanaan yang turut dihadiri oleh anak-anak dan warga desa sekitarnya. Desa-desa ini masuk dalam kategori wilayah terparah mengalami kerusakan karena bencana.

‎Anak-anak dan warga terlihat antusias mengikuti rangkaian acara ” Kegiatan ini menjadi semacam pelipur lara bagi kami, apalagi lihat anak-anak ada kegiatan dan diberikan semangat” ungkap Aman Adi salah seorang warga.

‎”Kami merasa terharu, melihat anak-anak bisa tersenyum dan riang gembira. Senang rasanya bisa berkontribusi dalam kegiatan ini, demi bangkit bersama-sama dari bencana”ujar Alhuda salah seorang Relawan.

‎Ia berharap kegiatan ini seperti ini akan bisa menginspirasi pihak-pihak terkait lainnya untuk terus berjibaku dalam pemulihan pasca bencana, termasuk melalui jalan kebudayaan. Tidak hanya di Aceh Tengah dan Bener Meriah namun di daerah lainnya yang merasakan dampak bencana.

‎Melalui kolaborasi antara komunitas lokal, relawan, pegiat seni, dan berbagai pihak pendukung, Festival Panen Kopi Gayo diharapkan menjadi contoh bagaimana ruang budaya dapat berfungsi sebagai ruang pemulihan, penguatan, dan harapan bersama.

‎Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan batin, terutama bagi anak-anak sebagai generasi penerus.