Oleh: Tazkir, S.Pd, M.Pd*
Di berbagai daerah, mahar emas sudah menjadi tradisi turun-temurun. Sayangnya, kenaikan harga emas membuat tradisi ini terasa semakin berat, ketika calon mempelai pria yang kini harus berpikir dua kali sebelum melamar, bukan karena kurang cinta, tetapi karena isi dompet belum siap.
Bagi sebagian perempuan, permintaan mahar dalam bentuk emas juga bukan sekadar gengsi, tetapi simbol penghargaan. Akibatnya, ketika harga emas melesat, mahar yang dulu mudah dipenuhi kini menjadi mimpi terasa jauh.
“Ketika Mahar Menjadi Mahal Apakah Rasa Cinta Turun?.” Candaan itu tentu tidak sepenuhnya salah. Di balik humor, tersimpan kenyataan sosial, ekonomi yang bisa mempengaruhi keputusan seseorang untuk menikah.
Kenaikan harga emas belakangan ini menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Logam mulia selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan, investasi, dan kestabilan ekonomi kini semakin mahal dan sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat menengah kebawah.
Dalam budaya Indonesia, emas sering kali memiliki makna lebih dari sekadar benda berharga. Ia menjadi simbol komitmen, keseriusan, dan penghargaan, terutama dalam konteks pernikahan. Mahar emas, cincin kawin, hingga perhiasan pengantin telah lama dianggap sebagai tanda kesungguhan cinta.
Namun, ketika harga emas terus meroket, simbol ini perlahan berubah menjadi beban finansial, khususnya bagi generasi muda.
Tidak sedikit calon pasangan yang akhirnya menunda pernikahan karena belum mampu memenuhi standar mahar atau biaya pesta dianggap ideal. Keputusan tersebut bukan berarti cinta mereka berkurang, melainkan karena realitas ekonomi.
Fenomena ini mengundang refleksi apakah cinta kini semakin terikat pada emas? Apakah rasa sayang dan komitmen benar-benar bisa diukur dengan gram emas atau mahalnya perhiasan? Pada titik ini, cinta berpotensi kehilangan makna sejatinya jika terlalu dibingkai oleh tuntutan material dan standar sosial berlebihan.
Di sisi lain, meningkatnya harga emas juga mencerminkan perubahan gaya hidup dan prioritas generasi masa kini.
Banyak anak muda memilih fokus pada pendidikan, karier, dan kestabilan ekonomi sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Cinta sejati seharusnya tidak rapuh oleh fluktuasi ekonomi. emas memang bernilai tinggi tetapi nilainya tetap bersifat material dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Sementara itu, cinta tulus memiliki nilai yang lebih abadi. Ia tidak berkarat, tidak lekang oleh waktu, dan tidak terpengaruh oleh kurs mata uang atau grafik ekonomi global. Cinta sejati tumbuh dari komunikasi, pengertian, tanggung jawab, dan komitmen, bukan dari kilauan perhiasan semata.
Emas sejatinya hanyalah simbol, bukan syarat cinta. Ia berkilau karena nilainya disepakati manusia, bukan karena menentukan kebahagiaan.
Ironisnya, di tengah masyarakat modern semakin konsumtif, simbol sering kali dianggap lebih penting dari makna. Padahal, cinta yang tulus justru tumbuh dalam kesederhanaan,
Emas memang berharga, tetapi cinta sejati lebih mahal dari logam apa pun di dunia ini.
Naik-turunnya harga emas tidak seharusnya menentukan tinggi-rendahnya cinta manusia.
Yang perlu kita jaga adalah nilai di balik simbol itu kesetiaan, tanggung jawab, dan ketulusan. Karena pada akhirnya, emas bisa naik dan turun setiap saat, tetapi cinta yang tulus akan tetap bersinar meski tanpa perhiasan.
*Penulis Guru SMA Negeri 1 Bukit

