Breaking News

Kisah dari Cot Ara Bireuen

Kondisi Gampong Cot Ara Bireuen pada 23 Januari 2026, setelah dihantam Banjir Bandang. Foto: Nyak Din/KenNews.id

BIREUEN| KenNews.id – Di sebuah Gampong di tanah Indonesia pasca bencana, mereka kini hidup terjebak dalam penderitaan, Matahari bersinar terik di atas kepala, namun tanah yang mereka pijak terasa lebih menghanguskan daripada cahaya langit—karena tanah itu tidak lagi dapat mereka garap.

54 hektar sawah yang menjadi tumpuan hidup 75 persen warga kini tampat bak hamparan pesisir pantai akibat timbunan lumpur bercampur pasir yang dibawa arus banjir bandang akibat rusaknya hutan di hulu.

Tidak hanya sawah, rumah tempat lahirnya berjuta kenangan bagi 215 kepala keluarga disana juga tidak lagi memberi cahaya pelepas lelah.

“Semua rumah disini tertimbun lumpur, paling rendah 1meter,” ujar geuchik Herman pimpinan gampong Cot Ara kecamatan Kuta blang – Bireuen pada tim Laskar Pemuda Aceh saat pendistribusian sembaki ke posko pengungsian di tempat tersebut pada Kamis, 22 Januari 2026.

Satu setengah bulan masyarakat disana bertahan dibawah camp pengungsian, penantian alat berat untuk pengerukan lumpur yang menimbun rumah – rumahpun tidak kunjung datang dari pemerintah setempat.

Kini warga dengan keterbatasan alat kerja kembali kerumah mereka untuk mengeruk sendiri lumpur tersebut.

“Inikan menjelang ramadhan, tidak mungkin masyarakat terus bertahan di tenda darurat, ” tambah Geuchik Herman dalam bincang bersama Tim KPA Simpang keuramat dan perwakilan masyarakat Aceh-Melayu Rawang Negeri Selangor – Malaysia usai serah terima bantuan sembako dihalaman mesjid setempat.

Penyaluran bantuan masyarakat Aceh – Melayu Distrik rawang Negeri Selangor – Malaysia di kabupaten bireun tertuju di enam titik.

Bermula di Gampong Keurumbok, Cot Ara, Rancong dan gampong meusee kecamatan kuta blang.

Kemudian berlanjut ke Gampong Kubu dan Pante Baro Buket Panyang kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen.

Potret kelumpuhan ekonomi yang tampak begitu sulit untuk bangkit akibat hilangnya mata pencarian dirasakan hampir semua warga terdampak.

Namun, dalam setiap langkah kaki korban yang kian lemah, masih tersisa do’a, asa, dan keberanian untuk bangkit dengan berharap tulus pada sang pencipta semesta.