ACEH TENGAH | KenNews.id –
Di tengah luka panjang pascabencana banjir bandang dan longsor di Aceh Tengah, masih saja tersaji pemandangan yang memalukan: pejabat datang ke lokasi bencana, berpose sejenak, lalu menabur uang receh ke tangan anak-anak korban. Seolah derita bisa ditebus dengan koin, dan trauma bisa diselesaikan dengan kamera.
Beberapa hari lalu, praktik tak bermartabat ini kembali terjadi di Kemukiman Wih Ni Dusun Jamat, Kecamatan Linge.
“Niatnya mungkin disebut sedekah,” ujar seorang psikolog anak yang menyaksikan langsung kejadian itu kepada KenNews.id, Rabu, 21 Januari 2026. “Tapi dalam perspektif psikologi anak dan etika kemanusiaan, ini bukan sekadar keliru—ini berbahaya.”
Anak-anak korban bencana bukan properti publik, bukan latar pencitraan, dan bukan objek hiburan belas kasihan. Mereka adalah kelompok paling rentan yang sedang berjuang memulihkan rasa aman, martabat, dan masa depan.
Memberi uang langsung kepada anak-anak dalam situasi krisis, kata psikolog tersebut, membentuk pola koping yang salah. Anak belajar bahwa menghadapi stres berarti menunggu orang asing datang membawa uang—bukan membangun daya lenting, kelekatan keluarga, dan kepercayaan sosial.
Psikolig ini menerangkan lebih jauh, praktik “sedekah instan” ini berdampak serius:
- Melemahkan otoritas dan peran orang tua di hadapan anak.
- Menormalisasi relasi transaksional dalam bantuan kemanusiaan.
- Membuka ruang eksploitasi, pemalakan, hingga kekerasan terhadap anak.
Ironisnya, yang disebut bantuan justru memperparah ketidakpastian psikologis anak. Padahal yang mereka butuhkan adalah rutinitas, rasa aman, dan pendampingan emosional—bukan recehan dan sorotan kamera.
Psikolog ini berpesan, “jangan Rusak Pemulihan Demi Tepuk Tangan”
Pemulihan anak pascabencana adalah proses panjang. Ia tidak bisa dibeli dengan koin, apalagi dijalankan dengan gaya feodal: yang kuat memberi, yang kecil menerima sambil dipaksa tersenyum.
Lebih berbahaya lagi, praktik ini perlahan menggeser orientasi anak dari sekolah dan pemulihan ke logika uang cepat. Dari titik inilah jalan menuju putus sekolah dan pekerja anak sering bermula.
“Jika pejabat benar-benar peduli,” tegas psikolog itu, “mereka seharusnya paham: kebaikan tanpa pengetahuan bisa berubah menjadi kekerasan simbolik.”
“Kalau Mau Membantu, Bantu dengan Cara Bermartabat,” tambahnya.
Ada banyak cara membantu tanpa merusak masa depan anak:
- Salurkan bantuan melalui program terstruktur: dukungan psikososial, terapi bermain, dan bantuan tunai berbasis keluarga.
- Dukung pemulihan pendidikan: buku, alat tulis, dan ruang belajar darurat.
- Hormati sistem dan orang tua: berkoordinasi dengan relawan dan posko resmi, bukan bertindak sepihak demi citra.
Psikolog ini dengan nada marah mengatakan, “Satu hal yang harus ditegaskan anak bukan alat pencitraan”.
Sebagai Pakar Psikolog dia mengatalan, Sudah waktunya praktik memalukan ini dihentikan. Anak-anak korban bencana tidak membutuhkan recehan di telapak tangan mereka. Mereka membutuhkan negara yang hadir dengan akal sehat, empati, dan kebijakan yang melindungi.
“Jika pejabat masih ingin datang ke lokasi bencana, datanglah dengan solusi—bukan dengan uang receh dan kamera. Karena yang dirusak bukan hanya mental anak hari ini, tetapi masa depan Aceh Tengah esok hari,” ujarnya.











