Breaking News

Dapatkah Seni Didong Menghibur Musibah?

KenNews.id – Musibah selalu datang tanpa aba-aba. Ia merobohkan rumah, merenggut kenangan, dan sering kali meninggalkan luka yang tak segera menemukan bahasa. Di Tanah Gayo, luka itu kerap hadir bersama banjir, longsor, atau kehilangan—bukan hanya kehilangan harta, tetapi juga rasa aman. Dalam situasi seperti itu, pertanyaan pun muncul: dapatkah seni didong menghibur musibah?

Didong, sebagai seni tutur kolektif masyarakat Gayo, bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang bersama tempat suara, ritme, dan makna saling berkelindan. Dalam didong, syair dilantunkan bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk menatapnya bersama-sama. Musibah yang terlalu berat untuk dipikul sendiri, dibagi ke dalam suara ramai—tepukan tangan, hentakan ritme, dan bait-bait yang lahir dari pengalaman hidup.

Menghibur, dalam konteks musibah, tidak selalu berarti membuat orang tertawa atau melupakan duka. Menghibur bisa berarti menemani. Didong melakukan itu dengan caranya sendiri: ia hadir sebagai teman sunyi yang bersuara. Syair-syair didong sering memuat nasihat, doa, dan pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan kehendak Tuhan dan alam. Di situlah unsur tasawuf sosial bekerja—duka diterima, bukan disangkal; diserahkan, bukan dihapuskan.

Lebih jauh, didong memiliki daya penyembuhan kolektif. Ketika satu kampung berkumpul untuk berdidong pasca-musibah, yang disembuhkan bukan hanya individu, melainkan rasa kebersamaan yang retak. Seni ini mengingatkan bahwa penderitaan tidak dialami sendirian. Dalam ritme yang berulang, ada peneguhan: kita masih bersama, kita masih hidup, dan kita masih mampu bersuara.

Didong juga berfungsi sebagai arsip ingatan. Musibah yang dilantunkan dalam syair tidak lenyap begitu saja; ia disimpan dalam memori budaya agar generasi berikutnya belajar. Dengan demikian, didong tidak hanya menghibur luka hari ini, tetapi juga memberi peringatan dan kebijaksanaan bagi esok. Hiburan di sini berubah menjadi kesadaran.

Namun, penting untuk diakui bahwa seni tidak menggantikan kebutuhan material pasca-musibah. Didong tidak membangun rumah, tidak mengeringkan sawah, dan tidak mengganti yang hilang. Tetapi ia membangun sesuatu yang sering luput diperhitungkan: ketahanan batin. Dalam kondisi ketika bantuan belum datang atau kata-kata tak lagi cukup, seni menjadi penyangga jiwa.

Maka jawabannya: ya, seni didong dapat menghibur musibah—bukan dengan meniadakan duka, melainkan dengan memuliakannya. Ia mengubah kesedihan menjadi suara, keterpisahan menjadi pertemuan, dan kepedihan menjadi doa yang dilantunkan bersama. Dalam dunia yang sering tergesa mencari solusi instan, didong mengajarkan bahwa menghibur juga berarti hadir, mendengar, dan bersabar dalam irama yang sama.