Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*)
Dahsyatnya bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa waktu yang lalu, telah meluluh lantakkan semua sendi kehidupan masyarakat Gayo. Mulai dari terputusnya akses logistik, padamnya aliran listrik, ketiadaan jaringan telekomunikasi, keterisoliran akibat hancurnya infrastruktur jalan dan jembatan, sampe hilangnya ribuan rumah warga dan ribuan hektar lahan pertanian/perkebunan.
Secara logika, ini akan membuat kehidupan masyarakat Gayo menjadi lumpuh dan tak berdaya. Tapi apa yang kita lihat di lapangan adalah sebaliknya, semangat untuk bertahan hidup dengan kemampuan yang ada, begitu tinggi. Tidak perduli harus menghadapi tantangan alam seperti arus sungai yang deras, medan jalan berlumpur, dan keterbatasan akses kebutuhan pangan, ketiadaan sarana komunikasi, namun tidak ada kata menyerah bagi warga Gayo yang terdampak bencana kali ini.
Kenapa ini bisa terjadi? Secara turun temurun, masyarakat Gayo memang sudah ditempa dengan alam, kebiasaan bertani (bersawah atau berkebun), berburu dan mencari ikan di sungai, telah membentuk karakter masyarakat Gayo menjadi kuat dan mampu bertahan dengan kondisi alam apapun.
Dulu, sering kita lihat para perempuan Gayo pulang dari kebun sambil “berjangkat utem” (menggendong kayu dengan tali jangkat) untuk stok BBK (bahan bakar kayu) sebelum eranya kompor minyak dan kompor gas. Sementara para laki-lakinya, disela kesibukan berkebun atau bersawah, sering melakukan kegiatan berburu atau mencari ikan, sebagai upaya memenuhi kebutuhan protein hewani dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada.
Pengalaman seperti itu yang membuat karakter masyarakat Gayo menjadi kuat, berjalan kaki puluhan kilometer untuk sekedar mendapatkan kebutuhan pangan, adalah hal biasa. Melintasi sungai besar dengan mulipe (menyeberang tanpa melawan arus) atau melintasi lumpe (jembatan sling, bambu atau rotan) juga bukan hal baru. Itulah sebabnya, ketika bencana alam berdampak pada putusnya jalur logistik, meski berdampak signifikan, namun masih bisa dijalani warga tanpa bergantung bantuan.
Satu-satunya kendala masyarakat adalah ketika cadangan pangan, khususnya beras mulai menipis, itu yang kemudian menyebabkan warga rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk memperoleh bahan pangan, bukan berharap pangan gratis, tapi dengan membeli, hanya saja berharap bisa memperolehnya dengan harga wajar.
Satu hal lagi yang membuat masyarakat Gayo, khususnya di wilayah pedalaman seperti di kecamatan Linge, Ketol, Rusip Antara mampu bertahan pasca bencana, adalah adanya produk pertanian unggulan seperti durian, cabe, dan beberapa komoditi lainnya. Sebuah kebetulan mungkin, pasca bencana ini durian di wilayah Jamat Linge, Ketol dan Rusip Antara, sedang memasuki musim panen. Buah berduri dengan aroma dan rasa khas inilah yang sekarang jadi andalan warga pedalaman yang masih terisolir untuk bertahan hidup. Begitu juga dengan cabe di wilayah kecamatan Ketol, seiring dengan mulai berfungsinya jalur logistik, harganya pun semakin membaik, ini membuat perekonomian warga setempat cepat membaik. Pasar cabe luar daerah seperti Sumatra Utara, Riau, Sumatera Barat dan Jambi mulai terbuka kembali.
Begitu juga dengan perkebunan kopi, meskipun sudah melewati masa panen raya, masih ada buah merah yang bisa menjadi penyambung hidup masyarakat, karena harganya masih bertahan.
Dari uraian diatas, kita jadi tau, bahwa daya tahan ekonomi masyarakat Gayo, sangat dipengaruhi oleh keberadaan komoditi pertanian unggulan, sehingga dalam kondisi pasca bencana ini masih mampu bertahan. Yang kemudian harus menjadi perhatian stake holder terkait, adalah bagaimana produk-produk pertanian unggulan ini bisa memiliki daya saing di pasar, sehingga perekonomian masyarakat juga ikut terdongkrak. Begitu juga dengan diversifikasi komoditi, harus jadi fokus stake holder terkait, karena semakin banyak komoditi unggulan, akan semakin baik ketahanan ekonomi masyarakat.
Bencana hidrometeorologi ini, mengajarkan kita tentang banyak hal, semoga kita mampu mengambil pelajaran dari musibah ini untuk Gayo yang lebih baik di masa yang akan datang.
*)Pemerhati bidang pertanian











