KenNews.id – Di Aceh, bencana kerap datang tanpa aba-aba. Ia tidak hanya merobohkan rumah dan ladang, tetapi juga menghantam ruang paling sunyi dalam kehidupan seniman: dapur, kesehatan, dan keberlanjutan hidup. Dari kondisi itulah lahir sebuah ikhtiar sederhana yang kami sebut *cabe jadi beras*—metafora tentang bertahan hidup dengan apa yang ada, tentang seni yang turun ke tanah.
Setidaknya ada 14 kabupaten/kota di Aceh tempat para seniman terdampak langsung oleh bencana. Jumlah itu besar, sementara tangan kami terbatas. Kami belum mampu menggapai semuanya. Kesadaran ini tidak kami tutupi; justru kami rawat sebagai pengingat bahwa kerja kemanusiaan selalu berjalan dalam keterbatasan.
Secara manusiawi, kami lemah; langkah kami pendek; daya kami tak sebanding dengan luasnya luka. Namun kami percaya, dalam setiap gerak kecil yang tulus, Allah-lah yang menggerakkan segalanya. Ketika satu karung beras berpindah bahu, ketika satu seniman menolong seniman lain, di situlah kerja Ilahi menyusup dalam ikhtiar manusia.
Dalam kerja sunyi itu, Dr. Afifuddin, Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA), tidak berdiri sebagai simbol jabatan, melainkan berjalan bersama sebagai sesama seniman. Ia ikut memanggul, ikut menyalurkan, ikut merasakan beratnya beban. Kehadirannya menegaskan bahwa solidaritas tidak lahir dari rapat-rapat resmi, melainkan dari keberanian turun ke lapangan dan berbagi nasib.
Seluruh donasi yang selama ini kami salurkan bersumber dari kerja yang halal dan semangat gotong royong: dari seniman, akademisi, serta masyarakat—baik dari dalam Aceh maupun dari luar negeri. Hingga hari ini, kami harus jujur mencatat: belum ada bantuan yang berasal dari pemerintah.
Pada titik inilah pertanyaan itu muncul, pelan namun tak terelakkan: di mana negara?
Kami tidak mengajukannya dengan teriakan, tidak pula dengan kemarahan. Kami hanya mencatat kehadirannya yang belum terasa di tengah dapur-dapur yang padam, di antara seniman yang tetap berkarya sambil menahan lapar dan cemas. Barangkali negara sedang dalam perjalanan; barangkali pula ia sibuk di tempat lain. Namun bagi mereka yang terdampak, waktu tidak pernah bisa ditunda.
Sebagai lembaga resmi kesenian, Dewan Kesenian Aceh telah dua kali menyurati Menteri Kebudayaan. Namun hingga tulisan ini disusun, belum satu pun surat tersebut memperoleh jawaban. Karena itu kami memilih untuk tidak menyurati yang ketiga kalinya.
“Sebagai ikhtiar lembaga, kami sudah dua kali menyurati Menteri Kebudayaan dan belum satu pun mendapat jawaban. Karena itu kami tidak akan menyurati untuk yang ketiga kalinya. Bencana tidak menunggu balasan surat, dan seniman tidak bisa hidup dari rapat ke rapat. Maka kami memilih terus berjalan—bekerja dengan apa yang ada, sebagai amanah, Dr. Afifuddin, Ketua Dewan Kesenian Aceh
Kami pun sadar—dan sangat sadar—bahwa kami bekerja untuk seniman, kelompok yang sejak dulu hingga kini kerap diposisikan sebagai kaum marjinal. Seni sering dipanggil ketika panggung terang, tetapi dilupakan ketika bencana datang. Seniman diminta menyuarakan luka kolektif, namun kerap dibiarkan sendiri saat lukanya sendiri terbuka.
Karena itu kami memilih bekerja dalam senyap. Tidak menunggu sorot, tidak menagih pujian. Dengan seni kami berbagi, dengan empati kami menguatkan. Cabe bisa menjadi beras, karya bisa menjadi penghidupan, dan solidaritas bisa menjadi jaring pengaman paling awal ketika negara belum tiba.
Ikhtiar ini akan terus berjalan—perlahan, terbatas, namun teguh—hingga rapa’i kembali bergemuruh, hingga bantal didong ditepuk bukan oleh tangan yang gemetar karena lapar, melainkan oleh tangan yang merayakan kehidupan. Dan ketika irama tak lagi disertai tangis, di situlah kami tahu: cabe jadi beras bukan sekadar metafora, melainkan bukti bahwa solidaritas seniman Aceh benar-benar hidup.











