Catatan : Fathan Muhammad Taufiq*)
KenNews.id – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda hampir semua wilayah dataran tinggi Gayo, menyisakan pemandangan memilukan. Ribuan rumah terkubur tanah longsor dan terbawa arus air, ribuan hektar lahan pertanian/perkebunan hancur, infrastruktur jalan dan jembatan terputus, dan di lereng-lereng perbukitan menyisakan hamparan bekas longsor yang sewaktu-waktu masih berpotensi mengancam keselamatan warga yang tinggal dibawahnya, terutama ketika intensitas curah hujan kembali meningkat.
Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan, karena rentan menimbulkan bencana susulan. Harus ada langkah-langkah nyata untuk mencegah berulangnya bencana ini.
Untuk jangka panjang, menanami tanah miring bekas longsor itu dengan pepohonan yang memiliki perakaran dalam dan batang yang kuat adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun itu butuh waktu panjang dan lama hingga bertahun-tahun, sementara ancaman longsor dan banjir bandang bisa datang sewaktu-waktu.
Lalu langkah jangka pendek apa yang bisa dilakukan? Ada cara sederhana, tapi sudah terbukti efektif untuk mencegah erosi atau longsor pada lahan dengan kemiringan relatif tinggi, yaitu dengan menanam rumput vetiver atau akar wangi.
Rumput yang terkenal dapat menahan erosi adalah jenis vetiver (Vetiveria zizanioides) . Berdasarkan fisiologinya, rumput vetiver ini dapat menembus ke dalam tanah, mengikat tanah, menyerap dan menyimpan air serta mampu mengontrol kondisi tanah, cepat tumbuh dan tidak mengganggu tanaman lainnya.
Sebagaimana pernah disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agung B. Supangat saat Pendampingan teknis BRIDA Sumatera Barat dalam kegiatan kajian Mitigasi Bencana dengan Penerapan Vegetasi Penahan Longsor, pada tahun 2024 yang lalu.
“Ada dua manfaat rumput vetifer ini, pertama manfaat ekonomi sebagai penghasil minyak atsiri melalui ekstraksi akar wangi, kedua manfaat ekologi sebagai tanaman konservasi untuk memperbaiki lingkungan dengan sistem perakaran yang kuat dan dalam” paparnya.
Manfaat lainnya, ujarnya, untuk rehabilitasi lahan bekas pertambangan, pencegah erosi lereng, penahan abrasi pantai dan stabilisasi tebing melalui teknologi Vetiver System (VS). Teknologi ini sudah dikembangkan selama lebih dari 200 tahun di India dan Thailand. Daunnya bermanfaat untuk menyerap karbon, pakan ternak, mengusir hama, bahan atap rumah, dan bahan dasar kertas.
“Vetiver sebagai tanaman konservasi, terbukti efektif dalam pengendalian erosi tanah dan limpasan permukaan. Stabilisasi lereng curam, seperti tebing jalan maupun tebing sungai, dan pengendali tanah longsor. Vetiver juga untuk peningkatan produktivitas lahan karena juga bisa menyuburkan tanah” lanjutnya.
Dia juga menegaskan, vegetasi atau tanaman untuk daerah rawan longsor memiliki persyaratan yang terdiri dari perakaran dalam/capai batuan, perakaran rapat dan mengikat agregat tanah dengan serabut dan dalam. Bobot biomassa ringan dan tajuk memiliki kapasitas intersepsi sedang-tinggi, serta tanamannya sebisa mungkin yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Berdasarkan analisis dan kajian, kami menyimpulkan bahwa untuk menambah resiliensi daerah rawan longsor perlu penerapan soil bio-engineering dengan penanaman vetiver atau VS.
Cara penguatan tanahnya melalui sistem yang mudah, sederhana, dan berkelanjutan di daerah-daerah rawan longsor serta lahan miring,” pungkasnya.
Rumput Vetiver relatif cepat tumbuh dan bisa tumbuh di berbagai jenis tanah, sehingga sangat cocok untuk penanganan jangka pendek pencegahan longsor dan banjir.
Selanjutnya BRIN merekomendasikan penanaman vetiver dalam bentuk gerakan, dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan lembaga, simultan dengan upaya edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Seluruh stake holder dan relawan dapat menjadi inisiator sekaligus pelaksana gerakan penanaman Vetiver ini. Keterlibatan masyarakat setempat secara aktif sangat menentukan keberhasilan penanaman, melalui pelibatan dan penguatan peran kelompok tani dan kempok masyarakat yang sudah ada.
“Peran lembaga atau stakeholder terkait lainnya sangat penting, misalnya BPDAS, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup untuk penyediaan bibit vetiver. Dinas PU untuk kegiatan sipil teknis berupa pemasangan bronjong batu dan pembuatan parit pembuangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Penyuluh Pertanian/Kehutanan Lapangan melakukan pendapingan dan menggerakkan aksi kelompok tani/kelompok masyarakat dan para relawan, sementara pihak Swasta dapat membantu dalam bentuk dukungan dana dan material untuk pengadaan bibit melalui CSR” ungkap peneliti brin tersebut.
Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi solusi untuk mencegah terjadinya bencana susulan yang tentunya sangat tidak kita inginkan.
*) Penulis adalah pemerhati bidang pertanian dan pegiat lingkungan.











