Breaking News

Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal Peger Keben

Fathan Muhammad Taufik

Oleh: Fathan Muhammad Taufik*

Bencana hidrometeorologi yang melanda sebagian besar wilayah Aceh dan sampai sekarang dampaknya masih dirasakan oleh warga yang desanya masih terisolir, memberikan banyak pelajaran kepada kita, khususnya di dataran tinggi Gayo.

Terputusnya akses logistik ke wilayah tengah Aceh, menyadarkan kita bahwa sesungguhnya ketahanan pangan di Gayo, sangatlah rapuh dan rentan. Betapa tidak, ketika semua akses masuk ke wilayah ini terputus, masyarakat kelabakan untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok mereka, khususnya beras. Artinya, kita di dataran tinggi Gayo ini memang tidak punya cadangan pangan yang cukup pada saat dalam kondisi darurat.

Dalam kondisi normal saja, menurut catatan saya, hampir 70 persen kebutuhan pangan pokok masyarakat dataran tinggi Gayo, masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, khususnya dari kabupaten Bireuen, Aceh Utara, Pidie dan Pidie Jaya. Kenapa? Karena produksi beras kita memang tidak mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Untuk kabupaten Aceh Tengah saja, saat ini lahan sawah produktif tinggal sekitar 4.000 hektar atau bahkan kurang. Dengan produktivitas rata-rata 4 ton gabah kering, lahan sawah di kabupaten Aceh Tengah hanya mampu menghasilkan sekitar 16.000 ton gabah atau setara dengan 9.600 ton beras.

Sementara dengan jumlah penduduk 234.710 jiwa, kebutuhan pangan khususnya beras sekitar 21.124 ton (dengan asumsi kebutuhan 90 kg per kapita per tahun), hasil dari sawah yang ada di daerah ini hanya mencukupi kebutuhan pangan selama 5,5 bulan, dan kekurangan untuk 6,5 bulan sangat bergantung pasokan dari luar.

Dalam kondisi normal, mungkin tidak ada masalah, karena daya beli masyarakat untuk produk pangan ini relatif tinggi, mengingat sebagian besar masyarakat punya penghasilan dari perkebunan kopi dan pertanian hortikultura. Tapi kondisi menjadi sulit ketika akses pasokan pangan dari luar terganggu, akibat bencana misalnya. Ini yang harus menjadi bahan pemikiran semua pihak untuk melakukan langkah-langkah antisipatif.
Dalam kultur masyarakat Gayo, sejak dahulu sudah dikenal konsep cadangan pangan yang dikenal dengan sebutan “peger keben”.

Kearifan lokal ini sejatinya bisa menjadi solusi ketika cadangan pangan di suatu wilayah mengalami kondisi darurat akibat berbagai hal. Kearifan lokal Gayo ini mengajarkan kepada kita, bahwa selain cadangan dalam bentuk padi yang disimpan dalam lumbung (keben), masyarakat juga harus aktif menanam pangan alternatif seperti jenis umbi-umbian (singkong, ubi jalar, talas/keladi dan lain-lainya), palawija seperti jagung dan berbagai jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kedelai, kacang koro dan sebagainya.

Belajar dari musibah bencana banjir dan longsor kali ini, alangkah bijaknya jika semua pihak bisa kembali menghidupkan kearifan lokal ini, sehingga masyarakat tidak kebingungan pada saat akses pangan dari luar terputus.

Konsep diversifikasi/penganekaragaman pangan dari kearifan lokal peger keben ini akan sangat membantu. Dalam kondisi darurat dimana stok beras terbatas, berbagai jenis umbi-umbian ini bisa menjadi bahan alternatif pengganti beras, sehingga penggunaan beras bisa dihemat dan masyarakat tidak perlu mengeluarkan uang banyak hanya sekedar untuk membeli beras.

Pada prinsipnya, singkong, ubi jalar, talas, jagung, memiliki kandungan karbohidrat yang tidak berbeda jauh dari beras, sehingga tanaman peger keben ini sejatinya bisa menjadi bahan pangan alternatif pengganti beras, dan ini akan sangat bermanfaat pada saat kondisi darurat.

Bahkan dalam kondisi normal pun, diversifikasi pangan sangat dianjurkan, khususnya untuk daerah-daerah yang produksi berasnya minim seperti di dataran tinggi Gayo ini. Cara penyajian dan teknik pengolahan pangan, akan mempermudah masyarakat untuk memulai penggunaan pangan alternatif ini.

Para leluhur kita di Tanoh Gayo sudah mewariskan kearifan lokal peger keben yang sangat bermanfaat ini, sudah seharusnya kita kembali menghidupkan dan melestarikannya.

*) Penulis adalah pemerhati bidang pertanian dan ketahanan pangan.