Breaking News

Cinta Seorang Ibu di Balik Derasnya Banjir Yang Melanda

Muslimiati dan bayi yang baru dilahirkannya. Foto: Nyak Din.

Di balik derasnya banjir yang melanda Aceh, terselip sebuah cerita cinta seorang ibu yang lebih luas dari genangan air, lebih kuat dari terjangan arus banjir bandang manapun, dan lebih abadi dari usia manusia.

Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang baru 10 hari melahirkan, Namanya muslimiati, perempuan asal dusun Buket Mesjid Gampong Matang Serdang Kecamatan Tanah Jambore Aye Aceh Utara tersebut mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang buah hati.

Pada malam itu, 26 November 2025, Muslimiati bersama putranya yang baru berusia 10 hari terlelap dalam rumah, sekitaran pukul 23.00 WIB air mulai naik, hawa dingin menembusi pori selimutnya.

Muslimiati terjaga dan langsung memeluk buah hatinya, ia tidak tau kalau banjir mulai mengintai nyawanya, perlahan ia bergerak keluar rumah konstruksi kayu miliknya dan air mulai meluap sampai batas dada orang dewasa.

“Saat itu kami cuma berdua dirumah, tidak ada yang memanggil atau mengabari kami, ayahnya pun tidak dirumah saat itu” Ujar Muslimiati saat diwawancarai wartawan pada 3 Januari 2026 disela sela pengobatan massal yang dilakukan tim medis KPA Simpang Keuramat di Meunasah setempat.

Perlahan kaki musliati terus dilakangkahkan dalam gelapnya malam, sekira 15 meter ia tertatih dalam sunyi, jalan utamapun berhasil ia gapai, langkah kecilnya terus membelah banjir bersama sang bayi yang didekap erat di gendongannya.

Saat itu musliati sudah pasrah, dalam pbenaknya hanya tersisa satu harap pada sang Khaliq

“Lindungilah anak saya dari bencana ini ya Allah” Tuturnya sambil kembali terisak-isak menahan tangis.

Seutas pelepah daun kelapa yang terseret arus banjir berhasil ia raih dengan tangan kirinya yang beberapa saat kemudian musliati berhasi menoleh kearah kerumunan orang-orang yang telah berkumpul di atas Meunasah, ia dan bayinyapun berhasil dievakuasi oleh masyarakat disana.

Banjir bandang telah berlalu, 31 hari masyarakat sudah hidup di pengungsian, tidak ada perubahan yang tampak pasca bencana di gampong tersebut.

Warga disana kini berharap agar pemerintah dapat segera membangun atau memperbaiki rumah-rumah warga yang terdampak, “Semestinya bulan puas kami sudah bisa menempati rumah sendiri” Tutup seorang warga yang ikut mengungsi di Meunasah dusun setempa.