BENER MERIAH | KenNews.id – Hari pertama masuk sekolah pasca banjir dan longsor yang diakibatkan oleh rusaknya hutan alam. Senin, 05 Januari 2026, semester genap, di Bener Meriah penuh tantangan.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Syiah Utama Kabupaten Bener Meriah, Marsono kepada KenNews.id.
“Para guru dan tenaga kependidikan (Tendik) harus menempuh perjalanan panjang dan ekstrem akibat keterbatasan akses jalan serta kondisi infrastruktur yang masih darurat pascabencana,” kata Marsono, Senin, 05 Januari 2025.
Menurut penuturan Marsono, sejak pukul 06.00 WIB, para guru dan Tendik berangkat dari rumah masing-masing dengan jarak tempuh yang bervariasi, mulai dari 60 hingga 80 kilometer.
Titik kumpul ditetapkan di kawasan Pondok Baru sebelum seluruh rombongan melanjutkan perjalanan secara bersama menuju sekolah.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah yang terletak di Samarkilang, terdapat sekitar enam titik akses jalan yang masih dalam kondisi darurat, ekstrem, dan tidak aman untuk dilalui, bahkan oleh kendaraan roda dua.
Kondisi ini menjadi semakin berisiko apabila hujan turun. Akibatnya, perjalanan memakan waktu cukup lama karena para guru harus saling membantu, termasuk mendorong kendaraan dan memastikan keselamatan rekan-rekan, terutama guru perempuan.
Rombongan guru dan Tendik akhirnya tiba di SMA Negeri 1 Syiah Utama sekitar pukul 10.00 WIB. Meskipun dalam keterbatasan, proses pengamanan dan pengondisian sekolah tetap dilakukan.
Untuk kehadiran siswa, hanya sekitar 15 persen dari total 65 siswa yang dapat hadir ke sekolah.
Siswa yang hadir tersebut merupakan siswa yang berdomisili di sekitar sekolah dan telah lebih dahulu diamankan serta dikondisikan oleh dua orang guru setempat.
Sementara itu, siswa yang berasal dari wilayah Tembolon, Rusip, Wih Durin, dan kawasan Transmigrasi belum dapat hadir karena akses jalan menuju sekolah masih dinilai tidak aman.
Situasi di wilayah Samarkilang hingga saat ini masih memprihatinkan. Listrik dari PLN dan layanan PAM untuk air bersih masih lumpuh.
Jaringan telekomunikasi juga sangat terbatas dan hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu. Selain itu, kebutuhan bahan pokok seperti gas LPG, BBM, dan sembako lainnya sangat langka. Kalaupun tersedia, harganya relatif tinggi. Kondisi ekonomi orang tua siswa turut terdampak dan mengalami penurunan signifikan.
Akses masyarakat untuk memperoleh kebutuhan pokok juga masih sangat berat akibat jalan menuju Pondok Baru yang belum layak dilalui.
Sejumlah kebutuhan mendesak saat ini sangat diperlukan untuk menunjang keberlangsungan pendidikan dan kehidupan masyarakat, antara lain perbaikan akses jalan yang layak dan aman bagi guru serta siswa, penyediaan genset listrik atau panel tenaga surya, fasilitas internet seperti Starlink, ketersediaan air bersih, serta bantuan kebutuhan pokok dan sembako.
Selain kendala fisik, kondisi psikologis para guru yang berdomisili di sekitar Gunung Berapi Burni Telong juga menjadi perhatian.
Kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga yang ditinggalkan di rumah turut memengaruhi ketenangan para pendidik dalam menjalankan tugas.
Terkait proses pembelajaran dan keaktifan sekolah, pihak SMA Negeri 1 Syiah Utama menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar masih difleksibelkan sesuai dengan edaran dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan mempertimbangkan faktor keselamatan guru dan siswa.
Adapun kehadiran Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) pada hari pertama sekolah tercatat dari total 18 orang, sebanyak 15 orang hadir, 2 orang berhalangan hadir dengan konfirmasi, dan 1 orang tidak hadir tanpa keterangan.
Sementara itu, absensi daring (online) pada hari tersebut belum dapat dipenuhi akibat keterbatasan jaringan.
Demikian laporan kondisi hari pertama sekolah di SMA Negeri 1 Syiah Utama.
Pihak sekolah berharap adanya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak untuk pemulihan infrastruktur dan keberlangsungan pendidikan di wilayah terdampak.
Penulis: Tazkir










