Breaking News
OPINI  

Hutan Lindung yang Melindungi

Salah satu lokasi tanah longsor di kecamatan Kebayakan

Oleh: Ismar Ramadani

Sejak tanggal 28 November 2025 hingga 12 Desember 2025 media sosial saya dipenuhi oleh pesan dari kerabat dan teman teman diluar Aceh. Semuanya menanyakan keadaan saya dan meminta untuk segera membalas pesan.

Sebagian harus menunggu sampai 12 hari, 18 hari sampai pesan dari saya mereka terima. Di benak mereka saya terdampak banjir dan tanah longsor terjadi secara merata di dataran tinggi dan pesisir utara Pantai Aceh. Saya begitu tersentuh dengan semua pesan itu sebelum menyadari bahwa Aceh, sebagai Kawasan Sumatera Utara dan Sumatera Barat mengalami bencana yang begitu hebat.

Sejumlah pertanyaan datang dari para sahabat tentang kondisi saya, hingga akhirnya saya mengatakan bahwa desa desa di Kecamatan kami tidak terdampak langsung oleh banjir dan tanah longsor.

“Kami beruntung masih memiliki gunung dan hutan yang melindungi”, begitu pesan saya untuk meyakinkan mereka.

Sampai pada salah satu teman meminta saya untuk mengirimkan foto atau video kondisi di tempat saya tinggal.

Semua ini baru bisa terkirim pada tanggal 14 Desember 2025, sebab sebelum itu jaringan internet masih belum stabil. Setelah foto dan video desa saya terkirim, semua teman baru merasa lega dengan kondisi yang saya bagikan.

“Alhamdulillah, di kampung Mba hutannya masih hijau”, begitu sebagian besar ungkapan syukur mereka.

Pada saat itulah saya semakin menyadari bahwa, apa saja bisa terjadi jika gunung hutan lindung di Kecamatan Jagong Jeget gundul dan dijarah.

Mungkin kondisi kami bisa lebih buruk dari apa yang sudah terjadi di kawasan lain. Kejadian ini sendiri merupakan bencana ekologi. Dimana bencana ekologis merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya perubahan tatanan ekologi yang mengalami gangguan atas beberapa faktor yang saling mempengaruhi antara manusia, makhluk hidup dan kondisi alam. Sehingga curah hujan bukan faktor utama terjadinya banjir dan longsor, namun kerusakan ekologis di hulu dan hilir menyebabkan bencana yang begitu hebat.

Di Aceh bencana ini menyapu sebanyak 18 kabupaten/kota, 198 kecamatan, dan 3.543 gampong dan dirasakan langsung oleh 2.017.542 jiwa. Menyebabkan korban jiwa 485 orang, 31 orang dinyatakan hilang dan 4.939 orang mengalami luka ringan dan 474 orang luka berat.

Bencana ini juga mengharuskan warga untuk mengungsi pada 2.174 titik pengungsian yang menampung 94.018 kepala keluarga atau 374.827 jiwa.

Banjir dan longsor juga menyebabkan kerusakan infrastruktur publik 183 unit perkantoran, 631 tempat ibadah, 444 sekolah, dan 511 pondok pesantren, serta 193 unit rumah sakit dan puskesmas.

Sedangkan pada jalur transportasi, terdapat kerusakan pada 1.098 titik jalan dan 492 titik jembatan, yang menghambat distribusi bantuan dan mobilitas warga.

Sehingga banyak desa yang terisolir, bahkan setelah sebulan pasca banjir masih terdapat 80 desa yang terisolir di Kabupaten Aceh Tengah hanya bisa diakses melalui udara.

Banjir dan tanah longsor ini juga menyebabkan kerugian pada harta benda masyarakat yang tergolong besar.

Data Posko yang dipublish ajnn mencatat 124.545 unit rumah rusak, 56.387 ekor ternak terdampak, serta kerusakan lahan pertanian berupa 90.601 hektare sawah, 23.307 hektare kebun, dan 39.505 hektare tambak

Data lain di kutip dari liputan6 menunjukkan kerugian hingga korban banjir Sumatera per 4 Desember 2025, yaitu kerugian ekonomi per 20-11-2925 dengan tital Rp. 68,67 Triliun di Sumatera dan Aceh pada tiga sektr utama, sektor kontruksi, lerdagangan besar dan eceran dan pertanian tanaman pangan. Data korban banjir per 4-12-2025, 776 korban meninggal, 564 orang hilang, 2,600 orang luka luka dan 11.095 bangunan rusak. Kampung/desa yang hilang diantaranya, Sawang, Jambo Aye, Bireuen, dan peusangan
Semua data kerugian diatas merupakan harga yang harus dibayar dari kerusakan ekologi yang menyebabkan bencana ini tergolong pada bencana ekologi. Meski demikian pemerintah masih ragu-ragu diakui oleh pemerintah. Namun fakta di lapangan, terutama di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang dimana banjir menyisakan lautan kayu yang begitu luas. dan wilayah lainnya dipenuhi oleh kayu gelondongan dam ukuran kecil, sedang dan besar.

Terdapat dugaan pembalakan liar ini dilakukan oleh perusahaan dan Kementrian Kehutanan mengingat kondisi kayu yang terpotong rapi dan diberi tanda. Ini merupakan sebuah ironi dari kinerja pemerintah terutama kementrian kehutanan yang seharusnya menjaga dan mnelindungi hutan, bukan sebaliknya.

Ini mengingatkan saya pada sebuah workshop terkait RTWR pada 2016 yang dilaksanakn di Banda Aceh. Kegiatan ini menghadirkan para Mukim Gampong dan membahas tentang hutan adat dan upaya melindungi kawasan hutan.

Seorang Mukim mengatakan bahwa, semua ijin pengalihan fungsi hutan selalu saja sudah ditandatangi sejak dari pusat (Jakarta), kami adalah orang terakhir kali diminta untuk memberikan tandatangan.

Ini menunjukkan bahwa, intervensi terhadap fungsi hutan sering sekali datang dari pejabat tinggi yang tentu saja sudah membincangkan itu dengan para cukong.

Betapa rapuh dan ringkihnya nilai tawar masyarakat terhadap upaya perlindungan hutan dan ini terbukti ketika masyarakat hanya bisa terkejut, panik saat bencana datang dan melihat langsung hasil kerusakan hutan yang terjadi di hulu.

Sementara mereka yang mengambil keuntungan dari kerusakan hutan justru berada jauh dari pusat bencana.

Sebenarnya hutan Aceh memiliki nilai ekonomi yang tinggi tanpa harus melakukan alih fungsi hutan. Merujuk pada riset Nilai Ekonomi Total Hutan Aceh didanai oleh Uni Eropa pada tahun 2016. Hutan Aceh memiliki nilai lebih dari yang kita lihat. Nilai ekonomi total hutan Aceh sebesar Rp. 412,3 triliun jika sepenuhnya dilestarikan. Rp 304,7 triliun jika tetap pada tingkat saat ini. Rp. 208,2 triliun jika semua hutan dataran rendah musnah. Hutan Aceh secara resmi seluas 3.557.928 hektar.

Adapun poin penilaian yang dilakukan diantaranya: Suplai air secara reguler untuk penggunaan domestik, industri dan irigasi, Keindahan alam, Pembangkit listrik tenaga air, mitigasi banjir dan erosi, Pencegahan kebakaran, Budidaya perikanan air tawar dan pesisir pantai, sumber air tanah, hasil hutan bukan kayu, fungsi regulasi iklim lokal, keaneka ragaman hayati, dan manfaat penyerbukan.

Pembahasan tentang mitigasi banjir dan erosi menunjukkan sejak tahun 2005-2011, Aceh Utara mengalami banjir sebanyak 37 kali. Aceh Tamiang 29 kali dan Aceh Tenggara 28 kali. Adapun nilai total kerusakan dan kerugian banjir dan erosi di Aceh tahun 2014 mencapai Rp. 668 miliar.

Adapun penyebab banjir menurut laporan ini diantaranya perubahan iklim global, tata kelola lahan yang buruk, peningkatan populasi, urbanisasi dan kemiskinan.

Adapun penjelasan kualitas hutan dan intensitas banjir sebagai berikut. Pertama saat hutan terjaga, hujan turun tidak terlalu kuat pada lantai hutan, ketika sebagian air mengalir melalui anak sungai dan sungai, selebihnya meresap ke lapisan humus, maka tidak akan ada banjir. Kedua Pada saat hutan gundul, hujan mengalir langsung ke permukaan tanah, hujan juga mengalir ke sungai, sehingga menyebabkan banjir karena sedikit air hujan yang terserap ke dalam sistem air tanah. Sehingga melindungi hutan mengurangi resiko banjir dan erosi.

Nilai ekonomi total hutan Aceh untuk mitigasi banjir dan erosi ada tiga skenario. Pertama, Jika hutan sepenuhnya dilestarikan, manfaat ekonomi rata-rata Rp 1 triliun per tahun dengan manfaat secara kesuluruhan sebesar Rp 31 triliun selama 30 tahun. Kedua, Dengan skenario kondisi saat ini, manfaat rata-rata terhitung menurun menjadi Rp 869 miliar per tahun dengan manfaat secara keseluruhan sebesar 26 triliun selama 30 tahun. Ketiga, Jika semua hutan dataran rendah hilang maka manfaat ekonomi hanya 227 miliar pertahun dan manfaat secara keseluruhan sebsar 23 triliun selama 30 tahun (Nilai Ekonomi Total (NET) Hutan Aceh, seperti yang pernah dilangsir oleh organisasi HAKA.

Sebagai orang yang tinggal di kaki gunung, saya merasakan betul keberadaaan hutan lindung telah menyelamatkan kami dari kehilangan yang hebat seperti yang terjadi di wilayah terdampak banjir dan longsor. Sekarang setiap hujan turun, kami selalu menatap pada gunung yang menjulang di sisi Selatan tempat kami tinggal dan berdoa semoga daun, pohon dan akar akar dari pepohonan itu cukup kuat menahan, menyimpan debit air hujan turun dan melindungi kami dengan desain perlindunganNya yang terbaik!