Breaking News
UMUM  

Hari ke – 25 Pasca Bencana Banjir Longsor Sumatra, Pemda Hadapi Tugas Berat Turunkan Harga Kebutuhan Pokok

TAKENGON | KenNews.id – Hari ini merupakan hari ke 25 Pasca bencana longsor dan Banjir yang menyebabkan rusaknya infrastruktur jalan, listik, komunikasi dan harta benda milik masyarakat bahkan nyawa.

Banjir dan Longsor yang terjadi pada 25 – 26 November 2025 itu, telah memutus 5 akses utama transportasi ke Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Akses utama itu adalah jalur KKA ke Lhokseumawe, Jalan Takengon – Bireuen, Takengon – Beutong, Takengon – Gempang (Jalur Pamar) dan Takengon – Belang Kejeren.

Dari pantauan KenNews.id – hingga hari ke – 25 pasca bencana yang secara teoritis akibat rusaknya hutan alam itu, Selasa, 23 Desember 2025, hanya jalur Takengon – Beutong yang sudah bisa dilalui dengan relatif lebih mudah. Selain itu, keempat jalur lain masih dalam kondisi darurat.

Sedangkan Jalur udara melalui bandar udara Rembele masih tidak ekonomis sebagai jalur utama pemasok barang.

Akibat terputusnya akses utama barang itu adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok dan BBM di wilayah tengah karena permintaan dan permainan spekulan. Sehingga berefek ke tingginya inflasi di dua kabupaten tersebut.

Tugas berat pemerintah lainnya, selain membuka akses transportasi adalah menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.

Kebutuhan Pokok seperti beras dan BBM adalah dua kebutuhan yang tak dapat digantikan, sedangkan kebutuhan lain seperti gas untuk memasak dapat digantikan dengan kayu bakar yang masih tersedia banyak.

Harga beras yang biasanya untuk ukuran 15 kilogram berkisar antara Rp200 ribu – Rp240 ribu dipatok oleh pemain gelap dengan harga Rp500 ribu – Rp330 ribu. Sedangkan telur mencapai Rp180 ribu dari harga premium Rp64 ribu per papan.

Dan, BBM pernah mencapai harga Rp100 ribu per liter dari harga Rp10 ribu sebelum turun sampai Rp23 ribu.

Pemerintah Daerah memiliki tugas berat dan mendesak untuk mengatasi putusnya akses ke dataran tinggi Gayo itu, jika tidak bisa segera diatasi, pemerintah akan menghadapi rasa frustasi warga akibat harga yang mahal.

Selain itu ke depan, pemerintah juga akan menghadapi tuntutan masyarakat akan lapangan pekerjaan akibat hancurnya sumber ekonomi mereka dari sawah dan kebun.