Dulu, ketika berada di pengasingan—masa yang membuat pendengaran lebih tajam dari biasanya—aku pernah mendengar seorang kawan menuturkan ungkapan dalam bahasa Gayo: “Asam Pepok i Rampami.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa penjelasan. Aku hanya mengangguk, pura-pura mengerti, padahal di dalam kepala tanda tanya menumpuk seperti dedaunan kering yang tak tahu ke mana harus tertiup angin.
Aku tahu, dan pernah mencicipinya, asam pepok adalah jeruk berkulit mulus, bulat sempurna, tampak segar dan menggoda untuk dipetik. Tapi begitu gigitan pertama menyentuh lidah—pahit, getir, dan asamnya membuat bibir menyesal pernah percaya pada penampilan.
Anak-anak pun enggan menyentuhnya, orang dewasa lebih memilih membiarkannya jatuh dan membusuk di tanah.
Jeruk ini hanya punya satu kegunaan: untuk mandi pangir —ritual penyucian tubuh yang bukan untuk dinikmati, melainkan untuk menyamarkan bau, menutupi sesuatu yang tak sedap, menipu penciuman agar percaya pada kesucian yang semu.
Lebih menarik lagi, di halaman belakang rumah-rumah orang Gayo dahulu, rumpun jeruk asam pepok sering dijadikan tempat menumpuk segala yang sudah tak berguna: belukar berduri, kawat karatan, kaleng penyok, ban usang—semuanya dikumpulkan di situ.
Itulah rampam: tumpukan sisa, kumpulan kenangan benda yang tak lagi punya nilai, tapi tetap disimpan dengan harapan samar, “barangkali nanti berguna”.
Padahal yang tersisa hanyalah semak berduri yang menutup pandangan, menyembunyikan kebusukan di bawah bayangan daun hijau.
Maka, ketika seseorang berkata “Asam Pepok i Rampami,” ia sedang menyindir—bukan soal jeruk, bukan pula tentang tumpukan sampah di halaman belakang.
Ungkapan itu menusuk lebih dalam: ia berbicara tentang manusia.
Tentang mereka yang membuat rampam untuk menjaga “buah polesan” yang seolah berharga—buah citra, buah wibawa, buah kuasa—padahal semua itu hanyalah kulit mulus yang menutupi rasa getir di dalamnya.
Ironisnya, rampam sejatinya punya fungsi: melindungi buah yang manis dari tangan jahil, dari binatang yang hendak mencuri hasil kerja keras. Tapi kini, rampam justru dipasang untuk menutupi ketiadaan buah itu sendiri.
Yang dijaga mati-matian bukan isi, melainkan ilusi.
Karena yang tumbuh di halamannya bukan pohon yang berbuah manis, melainkan asam pepok —pohon yang berbuah citra, harum hanya dalam bayangan, dan getir ketika digigit kenyataan.
“Asam Pepok i Rampami.”
Sebuah sindiran halus dari tanah Gayo yang kini terasa semakin relevan—tentang pejabat yang memoles citra dengan proyek dan upacara atau kunjungan mendadak ke instansi, tentang manusia yang menutupi kekosongan dengan simbol-simbol kebajikan, tentang kita semua yang mungkin tanpa sadar sedang menanam asam pepok di halaman sendiri.

